Rasa Frustrasi yang Berujung Inovasi

Andhika Prasetyo/E-1
06/8/2016 05:41
Rasa Frustrasi yang Berujung Inovasi
(MI/Duta)

FRUSTRASI kadang membuat seseorang terempas.

Namun, tidak sedikit pula yang akhirnya malah menjadikan rasa frustrasi itu sebagai titik balik untuk bangkit dan mengembangkan diri lebih maju dari sebelumnya.

Seperti Shelby Clark. Kini ia sukses. Clark ialah CEO of Turo, sebuah perusahaan penyewaan mobil berbasis aplikasi di Amerika Serikat.

Namun, siapa sangka ia pernah memiliki pengalaman tidak menyenangkan yang akhirnya memaksa dia melakukan hal yang belum pernah dilakukan orang lain saat itu.

"Momen itu bermula saat saya mengalami hari sangat buruk. Salju turun dengan deras. Sangat dingin. Celakanya, saya harus pergi ke suatu tempat dan tidak ada kendaraan selain sepeda,"

Clark mengawali kisahnya dalam Chief Executive Officer Panel pada gelaran 12th World Islamic Economic Forum, di Jakarta, Rabu (3/8).

Akhirnya, dengan bersepeda, ia mengayuh sejauh 2,5 mil untuk menyewa sebuah mobil.

"Di sepanjang perjalanan, saya melihat begitu banyak kendaraan terparkir di depan rumah yang tidak digunakan pemiliknya. Saya ingin pinjam, tetapi itu tidak mungkin karena saya orang asing," lanjutnya.

Dari situ lah, idenya muncul untuk membuat sebuah bisnis rintisan yang bergerak di sektor sewa-menyewa kendaraan.

Seperti Uber, para pemilik mobil yang ingin menyewakan kendaraannya cukup mendaftar di aplikasi.

"Awalnya sulit. Butuh 1,5 tahun untuk menemukan polis asuransi yang tepat sehingga dapat meyakinkan pemilik kendaraan bahwa semuanya berjalan aman," jelasnya.

Sejak mulai beroperasi pada 2010, kini bisnis penyewaan mobil itu sudah memiliki 1,5 juta pengguna di 3.000 kota di AS dan Kanada.

Rasa frustrasi yang berakhir pada keberhasilan juga dialami Ahmed Haider.

Pria asal Australia itu mengaku sangat tidak puas dengan sistem pendidikan yang dijalaninya.

"Saya mulai menyewakan buku untuk para pelajar saat saya masih kuliah. Saya menganggap ini cara tepat untuk mengakali rumitnya sistem pembelajaran," ujar Haider.

Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti sekolah dan fokus pada bisnis.

"Kami sewakan buku teks, fisik maupun elektronik, melalui aplikasi online."

Dengan platform awal US$10 juta, bisnis yang dinamai Zookal itu kini telah berkembang di Australia, Singapura, dan Filipina.

Tidak berhenti di situ.

"Kami sempat kesulitan dalam pengiriman. Hingga akhirnya saya berpikir menciptakan jasa pengiriman dengan menggunakan drone."

Kendati banyak menimbulkan pertentangan, ia mengatakan jasa pengiriman Flirtey miliknya, adalah suatu bisnis yang sangat aman.

Haider mengatakan apa yang dilakukan saat ini tidak berbeda dengan awal munculnya transportasi udara puluhan tahun lalu.

"Dulu, memasukkan orang ke dalam besi terbang itu ide gila. Tapi, apa yang terjadi sekarang?"

Presiden Direktur PT Ilthabi Rekatama Ilham Habibie sepakat inovasi dalam bisnis, walaupun sifatnya merusak bisnis yang sudah ada, mau tidak mau memang harus dilakukan.

"Namun, ini harus dihadapi dan dicarikan solusi. Bagaimana keduanya bisa berjalan berdampingan."



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya