Target Konsumsi Meleset

MI/ Nuriman Jayabuana
04/8/2015 00:00
Target Konsumsi Meleset
(FOTO ANTARA/Andika Wahyu)
PLN akan segera membangun dua pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) di Gorontalo berkapasitas 100 Mw dan 450 Mw. kenaikan konsumsi listrik menjadi salah satu indikator pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di suatu wilayah. Anjloknya pemakaian listrik di Pulau Jawa yang masih menjadi poros roda perekonomian nasional pun berimbas terhadap pertumbuhan konsumsi listrik secara nasional.

"Target pertumbuhan konsumsi listrik sebesar 7,5% dalam APBN-P 2015 sulit tercapai. Kami merevisinya dari 219,1 terrawatt hour (Twh) menjadi hanya 215 Twh," kata Kepala Divisi BBM dan Gas PT PLN (persero) Chairani Rachmatullah di Jakarta, kemarin. Menurutnya, berdasarkan pemetaan wilayah, pertumbuhan konsumsi listrik di Jawa sepanjang semester I 2015 hanya mencapai 0,5%,

jauh di bawah target awal 3%. Padahal di wilayah lain seperti Sumatra dan kawasan timur Indonesia, konsumsi listrik naik hingga 5%. Tahun lalu, imbuhnya, pertumbuhan konsumsi listrik di Jawa mampu mencapai 5% dan luar Jawa naik hingga 7%. "Kami sedang mencari cara untuk menggenjot penjualan," ujarnya.

Imbasnya, BUMN kelistrikan itu juga harus menghitung ulang pemakaian bahan bakar pembangkit. Misalnya, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) diprediksi bakal di bawah kuota tahun ini yang dipatok 5,6 juta kiloliter. Pun demikian dengan konsumsi gas alam cair (LNG) yang diturunkan dari 475 trillion British thermal unit (TBTU) menjadi 450 TBTU.

"Namun, penyerapan energi air justru naik akibat adanya penghentian operasi pembangkit cadangan (reserved shutdown) energi BBM, gas, dan batu bara."Misalnya, pembangkit tenaga uap (PLTU) Suralaya berkapasitas 2x1.000 megawatt (Mw) pada April 2015 dimatikan sementara karena beban listrik turun. "Biasanya tidak pernah setop, tapi waktu itu mati 10 hari," kata Kepala Divisi Batu Bara PLN Harlen.

Selain itu, PLTU Paiton, Jawa Timur, yang berkapasitas 3.000 Mw sempat terhenti karena menurunnya konsumsi listrik. Akibatnya, di semester I 2015, realisasi konsumsi batu bara hanya 32 juta ton. Walakin, perseroan merevisi target konsumsi dari 91 juta ton menjadi 61 juta ton. Lebih jauh, akibat tingkat konsumsi yang tidak sebanding dengan daya, PLN pun menyetop operasional sejumlah pembangkit. "Itu kami lakukan hanya terhadap pembangkit milik PLN. Untuk pembangkit swasta (independent power producer/IPP) menjadi pilihan terakhir," tukasnya.

PLTGU Gorontalo
Di sisi lain, PLN akan segera membangun dua pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) berkapasitas 100 Mw dan 450 Mw di Gorontalo. "Ground breaking PLTGU Gorontalo pada 14 Agustus," ujar Kepala Direktorat Pengadaan Energi Primer PLN Iwan Purwana. Saat ini proyek tersebut dalam proses tender untuk memilih kontraktor pengelola. Namun, Iwan masih merahasiakan nilai kontrak proyek yang ditawarkan PLN.

"Harga masih menjadi aspek nomor dua Yang penting, verifikasi tahap pertama berjalan dengan baik," ucapnya. Selain itu, Iwan melanjutkan, PLN tengah merencanakan pembangunan PLTGU Muara Karang berkapasitas 500 Mw dan PLTGU Tanjung Priok berdaya 800 Mw di Jakarta. "Tapi keduanya baru akan masuk pelelangan tahap pertama," tandasnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya