Pelindo I Kebut Pelabuhan Kuala Tanjung

MI/Tesa Oktiana Surbakti
04/8/2015 00:00
Pelindo I Kebut Pelabuhan Kuala Tanjung
( ANTARA FOTO/Septianda Perdana)
Investasi yang dibutuhkan untuk membangun keseluruhan kawasan industri Kuala Tanjung dengan luas 1.500 hektare mencapai Rp8 triliun. PT Pelindo I menargetkan pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatra Utara, rampung pada akhir 2016 dan efektif beroperasi pada kuartal I 2017. Pelabuhan multipurpose yang diproyeksikan menjadi pelabuhan terbesar di Selat Malaka itu juga terkoneksi dengan kawasan industri.

Direktur Utama PT Pelindo I Bambang Eka Cahyana menjelaskan pihaknya menargetkan pada bulan ini presentase pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung sudah 15%, yaitu pada tahap pemancangan tiang-tiang di laut. "Akhir 2015 kita harapkan progresnya mencapai 54%, jadi kita akan bilang ke Pak Jokowi pembangunan bisa dipercepat akhir 2016 dan mulai beroperasi pada kuartal I 2017," papar Bambang di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, kemarin.

Sebagaimana diketahui, perseroan turut menggandeng Port of Rotterdam International dalam pengembangan pelabuhan. Pada tahap awal 2015, perseroan mengalokasikan dana sekitar Rp4,9 triliun. "Ke depan perusahaan asal Belanda tersebut juga berminat menjadi bagian dari manajemen Pelabuhan Kuala Tanjung berikut kawasan industri," tuturnya.

Bambang mengatakan nilai investasi yang dibutuhkan untuk membangun keseluruhan kawasan industri Kuala Tanjung dengan luas 1.500 hektare mencapai Rp8 triliun yang mencakup pengadaan infrastruktur, seperti jalan, jaringan listrik, dan kebutuhan penunjang lainnya. Untuk keseluruhan kawasan industri ditargetkan selesai 2019.

"Karena pelabuhannya menyangkut industri, sejumlah perusahaan akan bergabung menjadi pemegang saham, seperti Inalum, Wijaya Karya, juga Tasepen. Semen Indonesia dan Pupuk Indonesia juga mau bergabung, PTPN malah akan bikin refinery. Ada juga perusahaan asing di bidang pengolahan kelapa sawit yang akan memindahkan basisnya dari Malaysia ke kawasan industri Kuala Tanjung," urai Bambang.

Menurutnya, kawasan industri tersebut harus menjadi basis industri kimia dasar. Hal itu sejalan dengan program pemerintah yang ingin mengurangi ketergantungan bahan baku impor untuk kebutuhan industri dalam negeri.

"Percuma kan kalau yang tumbuh di kawasan industri itu kebanyakan industri hulu saja, pasti bahan bakunya diambil dari impor," tukas dia. Untuk itu, pihaknya membidik negara di Timur Tengah untuk berinvestasi di sektor industri berat, seperti processing kimia dan gas sebagai penyedia bahan baku.

Kinerja semester I
Lebih jauh, Bambang mengatakan pada Juni 2015 Pelindo I membukukan pendapatan sebesar Rp1,2 triliun, naik 22,2% ketimbang pendapatan periode Juni 2014 sebesar Rp982 miliar. "Saat yang sama dalam enam bulan pertama 2015 Pelindo I mampu mencetak laba sebesar Rp272 miliar, tumbuh 16,24% daripada periode sama pada 2014 sebesar Rp234 miliar," kata Bambang.

Menurutnya, pertumbuhan pendapatan didorong peningkatan kegiatan operasional sejalan dengan optimalisasi aktivitas di pelabuhan. Hingga akhir tahun, lanjut dia, Pelindo I menargetkan laba hingga Rp605 miliar dan pendapatan keseluruhan tahun ini ditargetkan mencapai Rp2,3 triliun. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya