PEMANFAATAN gas alam untuk pemenuhan energi nasional terus dimaksimalkan. Megaproyek gas seperti Lapangan Gas Senoro dan kilang gas alam cair (LNG) Donggi Senoro menjadi upaya mengintegrasikan sisi pasokan dan kebutuhan. "Hilirisasi industri, baik di sektor energi dan sektor lainnya harus digalakkan. Pertumbuhan ekonomi nasional selama ini terlalu bertumpu pada konsumsi domestik, bukan pada produksi," ujar Presiden Joko Widodo saat meresmikan Lapangan Gas Senoro yang dioperatori JOB Pertamina Medco E&P Tomori Sulawesidi Banggai, Sulawesi Tengah, kemarin.
Di kesempatan serupa, Jokowi juga meresmikan pengapalan perdana satu kargo LNG dari PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) dengan volume 125 ribu m3 ke Terminal Regasifikasi Arun di Nanggroe Aceh Darussalam, pengoperasian Lapangan Gas GG PT Pertamina Hulu Energi ONWJ, dan peletakan batu pertama pabrik amoniak PT Panca Amara Utama.
Total investasi empat proyek itu US$5,6 miliar (Rp72,8 triliun). "Ini proyek hulu hilir pertama di Indonesia. Gasnya untuk pembangkit listrik dan pabrik amoniak," lanjutnya. Produksi gas dari Lapangan Senoro diolah menjadi LNG oleh DSLNG untuk konsumen domestik dan pasar ekspor. "Energi terintegrasi dengan industri akan memberi dampak besar ke negara. Saya harap proyek ini menjamin pasokan gas untuk listrik, amoniak, dan pembeli LNG dalam negeri," tandasnya.
Menteri ESDM Sudirman Said menuturkan megaproyek itu juga dibangun dalam rangka monetisasi gas di Sulawesi Selatan. "Kalau hulu tertata, hilirnya pasti tertata. Kalau hulu berantakan, hilirnya pasti kotor," ucapnya. Proyek itu juga bakal menambah penerimaan negara hingga US$7,02 miliar (Rp91,2 triliun), dengan asumsi harga minyak US$70 per barel, untuk 13 tahun mendatang. Selain itu juga menyerap tenaga kerja hingga 10 ribu orang.
Presiden Direktur DSLNG Gusrizal menyebut tahun ini pihaknya memproduksi 15 kargo LNG. Sejumlah enam kargo akan diekspor ke Jepang dan Korea Selatan hingga 2027 serta empat kargo telah terjual di pasar domestik dan luar negeri, "Lima sisanya belum terjual. Setiap tahun produksi 33 kargo. Belum ada porsi domestik dan ekspor, tergantung pembeli," katanya.
Kendala infrastruktur Direktur Utama PT Pertamina (persero) Dwi Soetjipto mengatakan alokasi gas dan LNG untuk domestik sulit ditentukan lantaran minimnya infrastruktur gas di dalam negeri. "Kalau infrastruktur sudah meningkat, tentu permintaan dalam negeri akan naik," terangnya. Pembeli lokal juga sering tidak tertarik dengan harga dari pengebor gas.
"Jadi terpaksa cari buyer dari luar negeri. Itu yang terjadi di Matindok dan Senoro." Dari produksi Lapangan Senoro sebesar 310 mmscfd, DSLNG menerima 250 mmscfd, pabrik amonia 55 mmscfd dan PLN 5 mmscfd. Pasokan untuk DSLNG bakal bertambah 35 mmscfd seiring produksi Lapangan Matindok pada Januari 2016. Dari tambahan itu, DSLNG bisa memproduksi LNG hingga 2,1 juta ton per tahun (mtpa). PLN pun akan menerima tambahan 20 mmscfd.