La Nina Sebabkan Produksi Tembakau Diprediksi Merosot 50%

Agus Utantoro
04/8/2016 15:18
La Nina Sebabkan Produksi Tembakau Diprediksi Merosot 50%
(ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

SELAIN mengurangi jumlah luasan lahan penanaman tembakau, dampak dari fenomena cuaca La Nina atau kemarau basah juga akan menyebabkan tingkat produksi tembakau Indonesia merosot.

Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesioa (APTI) Soeseno di sela-sela Rapimnas (Rapat Pimpinan Nasional) APTI di Yogyakarta, Rabu (3/8) mengatakan, saat ini, banyak petani tembakau yang mengalihkan lahannya untuk bertanam jagung atau lainnya.

“Karena tidak tahan. Semula menanaminya dengan tanaman tembakau tetapi kemudian rusak karena hujan. Mengganti lagi dengan tanaman tembakau baru, rusak lagi. Kalau ini berlangsung tiga atau empat kali, banyak petani tembakau yang tidak tahan dan memilih mengganti dengan tanaman lainnya,” katanya.

Tidak hanya itu, kalau saat ini tetap mempertahankan tanaman tembakaunya, jika kemudian Oktober mulai hujan, tanaman tembakau juga akan mengalami kerusakan.

Didampingi sejumlah pengurus APTI lainnya, Soeseno menambahkan dengan kondisi-kondisi itu, luasan tanaman tembakau di Indonesia diperkirakan akan mengalami kemerosotan hingga 40% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Pada 2015 lalu, luasan lahan mencapai 197 ribu hektare. Pada tahun ini, diperkirakan hanya sekitar 167 ribu hektare saja,” katanya.

Soeseno menambahkan, dengan cuaca yang terdampak La Nina atau kemarau basah dan kemerosotan luasan lahan pertanian tembakau, diperkirakan produksi tembakau Indonesia juga akan mengalami penurunan hingga 50% dibandingkan tahun sebelumnya.

Ia memperkirakan pada 2016 ini produksi tembakau Indonesia hanya akan mencapai 80 ribu hingga 90 ribu ton saja.

Penurunan angka produksi, ujarnya, akan semakin meningkat ketika kondisi tanaman juga tidak baik akibat cuaca. Dengan demikian, tambahnya, kemerosotan produksi itu dipengaruhi oleh luasan lahan yang berkurang, tanaman yang kurang dapat tumbuh maksimal dan banyaknya hama dan penyakit tanaman karena kemarau basah akibat La Nina.

Pengurus APTI lainnya, Samokrah menambahkan, saat ini angka produktivitas tembakau Indonesia masih pada kisaran 6-7 ton per hektare.

Angka produktivitas itu diakuinya masih rendah dibandingkan produksi di negara-negara lainnya.

“Tiongkok angka produksinya akan melonjak karena saat ini mereka mengembangkan tembakau Indonesia di Yunnan. Kalau itu sudah produksi maksimal, dipastikan Tiongkok akan memanfaatkan untuk mengekspor tembakau ke Indonesia,” jelasnya.

Petani tembakau Indonesia sendiri, imbuh Soeseno akan semakin mengalami kesulitan karena target cukai tembakau dan hasil industri tembakau yang cukup tinggi.

Padahal, petani tembakau di Indonesia kebanyakan adalah petani mandiri yang tidak banyak mendapat fasilitas dari pemerintah. Bahkan, tambahnya, perbankan pun enggan memberikan kredit bagi petani tembakau.

Dengan kemerosotan produksi tembakau, ujarnya, dipastikan akan terjadi importasi besar-besaran komoditas tembakau. Yang disayangkan, imbuhnya, impor tersebut sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan. Dan bahkan berlebih.

Karena itu, kalangan petani tembakau Indonesia berharap pemerintah dan negara dapat hadir lebih nyata untuk membela kalangan petani tembakau Indonesia. Apalagi, lanjutnya, saat ini ada sekitar 6,1 juta petani tembakau yang terlibat dalam pertembakauan.

Samokrah mengungkapkan lagi, selama ini impor sering dibalut dengan ujaran bahwa tembakau produksi Indonesia tidak mampu memenuhi standar kualitas yang ditentukan pabrik.

Menurut dia, anggapan itu salah. Yang benar kualitas tembakau Indonesia itu cukup baik namun kuantitasnya yang sering tidak dapat memenuhi permintaan.

“Produksi rata-rata masih di bawah 200 ribu ton tembakau per tahun namun tingkat kebutuhan tembakau di Indonesia mencapai 300 ribu ton per tahun. Jadi selalu ada impor,” tambahnya. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya