Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH menyatakan perlunya perubahan paradigma di masyarakat dalam pengelolaan sanitasi. Itu penting lantaran masyarakat masih memandang pengelolaan sanitasi bukan sebagai kebutuhan yang utama jika dibandingkan dengan kebutuhan lainnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2015, misalnya, angka akses sanitasi layak secara total baru mencapai 62,14% dengan rincian untuk perkotaan sebesar 76,36% dan perdesaan 47,84%. Sementara itu, untuk persampahan di kota dan desa, rinciannya baru 86,73%.
"Padahal pemerintah sedang berupaya mewujudkan akses 100% untuk sanitasi yang layak bagi masyarakat pada 2019. Jadi, perlu perubahan paradigma yang menyeluruh di masyarakat," kata Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) Dodi Krispratmadi di Jakarta, Jumat (29/7).
Dodi menyatakan masyarakat harus mengubah paradigma bahwa sampah ialah sumber daya yang akan bermanfaat, jika sebelumnya sampah dipilah dan diolah terlebih dahulu, sehingga sampah yang dihasilkan tidak banyak mencemari lingkungan.


"Salah satunya dengan melakukan 3R (reduce, reuse, recycle). Demikian juga dengan paradigma air limbah, penyediaan infrastruktur air limbah dapat dilakukan dengan keterlibatan masyarakat (bottom up) di setiap daerah," kata Dodi.
Untuk mengubah paradigma itu, pemerintah, dalam hal ini Kementerian PUPR, telah melakukan berbagai program. Di antaranya Program Percepatan Sanitasi Permukiman (PPSP).
Program yang melibatkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta kementerian lainnya itu mendorong pemerintah daerah untuk membuat strategi sanitasi kota dengan mengidentifi kasi masalah dan membuat solusi bagi daerah.
Untuk generasi muda, Kementerian PUPR mengampanyekan upaya kesadaran generasi muda atas sanitasi dengan menyelenggarakan Jambore Sanitasi yang melibatkan siswa SMP, berusia 11-14 tahun se-Indonesia.
Kegiatan itu dilaksanakan berdasarkan Masterplan Kampanye dan Edukasi Bidang Penyehatan Lingkungan Permukiman (PLP) 2008-2018 dengan tujuan memilih serta menyiapkan duta sanitasi sebagai agen perubahan perilaku masyarakat dan menyampaikan pesan sanitasi kepada lingkungan sekitar. Apalagi, berdasarkan data Kemendikbud, jumlah anak usia sekolah dasar (SD) dan SMP di Indonesia sekitar 50 juta siswa.
Apabila mereka mampu menerapkan pola hidup bersih dan sehat, dengan peningkatan kesadaran sanitasi, diharapkan 10 tahun ke depan kondisi sanitasi di Indonesia akan jauh lebih baik.
"Menjadi duta sanitasi dapat memicu anak-anak lebih berkembang. Kita mendidik dari yang muda agar bisa jadi sebuah kebiasaan hingga dewasa nanti. Dari SMP bisa dibentuk karena mereka akan cepat menyerap nilai-nilai baru yang diajarkan sehingga kita akan sangat efektif bila kita membentuk perilaku dari generasi muda," ujar Dodi.
Jambore Sanitasi
Menurut Dodi, sejak digelar pertama kalinya pada 2008, atau bertepatan dengan Tahun Sanitasi Internasional, jambore sanitasi jadi se suatu yang positif untuk mengampanyekan gerakan peduli sanitasi sejak dini.
Dari hasil evaluasi 2014, misalnya, sebanyak 95% duta sanitasi di seluruh Indonesia melakukan kampanye, terkait dengan sanitasi dan pola hidup sehat di daerah mereka. Hal itu berdampak pada lingkungan mereka yang menjadi lebih baik, bahkan beberapa dari para duta sanitasi melakukan banyak hal yang lebih daripada yang diharapkan.
Misalnya, ada yang membuat komunitas green nation ketika duduk di SMA atau membentuk asosiasi kegiatan lingkungan lainnya, seperti Komunitas Kampung Harapan yang memilah sampah rumah tangga.
"Juga ada yang mengampanyekan kegiatan sanitasi di forum anak dengan membina sanitasi anak-anak. Bahkan, ada pula yang mendapat julukan Ratu Sampah karena peranan di daerahnya hingga diwawancarai di program Kick Andy di Metro TV," jelas Dodi.
Untuk tahun ini, menurut Dodi, Jambore Sanitasi bakal digelar pada 3-9 Agustus 2016 di Ancol, Jakarta, dengan diikuti 204 siswa SMP para pemenang Lomba Poster dan Karya Tulis di tingkat provinsi dari seluruh Indonesia beserta 68 pendamping mereka.
"Selama jambore berlangsung, anak-anak tak hanya menerima pengetahuan tentang sanitasi, tetapi juga materi tentang pengembangkan kepribadian dan kreativitas anak," tutur dia.
Nantinya, Kementerian PUPR yang bekerja sama dengan Kemendikbud pun akan memberi seluruh duta sanitasi beasiswa prestasi sebesar Rp3 juta per anak. Selain itu, pada tahun ini Jambore Sanitasi pun diiringi dengan lomba komik sanitasi.
Tujuan pelaksanaan lomba komik ini adalah untuk mendukung upaya kampanye perubahan perilaku sanitasi untuk mewujudkan permukiman layak huni dan berkelanjutan serta meningkatkan kualitas dan penyebaran media komunikasi yang mengandung pesan-pesan sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Hasil dari lomba komik ini nantinya akan dicetak dan diharapkan dapat menjadi media kampanye peduli sanitasi.
"Kami berharap dari para peserta Jambore Sanitasi ini kelak jadi duta untuk menyadarkan masyarakat sekitarnya dalam hal pengelolaan sanitasi di lingkungan mereka," pungkas Dodi. (S-25)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved