Melirik Industri Halal lewat E-Commerce

(Jes/E-3)
02/8/2016 03:30
Melirik Industri Halal lewat E-Commerce
(MI/Galih Pradipta)

KATA 'halal' kerap identik dengan produk-produk yang bisa dimakan atau digunakan kaum muslim. Memang pandangan itu tidak salah, tapi ada yang menarik dari pemikiran CEO Halal Industry Development Corporation Dato' Seri Jamil Bidin. Pria berkebangsaan Malaysia itu mengatakan produk halal sudah dipandang sebagai produk bernilai dagang tinggi. Makanan halal, pakaian, hingga kosmetik halal sudah menjadi perhatian beberapa negara untuk dikembangkan. "Banyak negara yang belum paham halal dari sudut ekonomi, kebanyakan hanya melihat dari sudut agama. Padahal, potensinya besar untuk membantu ekonomi suatu negara," ucap Dato' Seri saat peluncuran eHalal.com di Jakarta, Senin (1/8).

Ia pun mengatakan industri halal sangat dibutuhkan di berbagai belahan dunia. Apalagi jumlah umat muslim di seluruh dunia mencapai 1,8 miliar jiwa. Malaysia memiliki 30 juta penduduk muslim dan Indonesia bahkan memiliki 200 juta orang. "Bagaimana kaum muslim dapat produk halal kalau tidak ada industrinya di setiap negara? Di mana cari makanan halal kalau tidak ada yang membuat?" cetus Dato' Seri. Ia menaksir, potensi permintaan produk halal dunia bisa mencapai US$2,3 triliun per tahun. Apalagi, produk halal saat ini tidak selalu dibeli hanya oleh kaum muslim. Masyarakat umum pun mulai menggemari produk halal karena dinilai sehat, bergizi, dan aman.

"Jadi mustahil satu negara bisa menguasai industri halal dengan melihat permintaannya yang sampai US$2,3 triliun per tahun." Di kesempatan yang sama, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani juga mengamini bahwa produk halal kini sudah menjadi barang bernilai ekonomis. Beberapa negara nonmuslim, seperti Inggris, Jepang, dan Amerika Serikat, sudah mulai ikut memproduksi barang halal. "Permintaan yang terus melonjak membuat produk halal jadi pertimbangan yang ekonomis buat negara nonmuslim. Sekarang bagaimana kita sebagai negara muslim harus bisa tidak tersaingi." Rosan menilai sudah semestinya Indonesia tidak hanya menjadi pasar produk halal. Meski mayoritas muslim, penduduk Indonesia juga mesti menjadi produsen produk halal. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menilai kerja sama dengan Malaysia bisa dimanfaatkan pengusaha Indonesia untuk mencari pembiayaan dari perbankan Malaysia untuk membangun industri halal. "Apalagi lewat e-commerce, pasti lebih mudah bangun industrinya," imbuh Rudiantara.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya