MUSIK bernuansa elektronik menghentak mengiringi belasan pria berbadan kekar yang asyik mengangkat beban, Kamis (30/7). Beberapa di antaranya dalam posisi sit up.
Namun, saat azan isya berkumandang, seketika kegiatan di dalam ruangan berukuran sekitar 15 x 5 meter itu berhenti.
Maklum saja, pusat kebugaran tersebut memang berada tepat di samping musala dan dikelilingi perumahan padat penduduk di daerah Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Setiap harinya, saat pagi dan sore hari menjelang malam tempat ini selalu ramai.
Bahkan, bisa mencapai 20 orang sehingga tidak dapat menampung pengunjung lain.
Untuk yang sabar, mereka biasanya menunggu sambil menikmati kopi dan camilan di kantin.
Namun, tidak sedikit pula yang memilih pulang.
Sang pemilik, Fachrurrozi (Ajie), 30, dan Priyono Dwi Nugroho (Mprie), 38, awalnya merupakan anggota dan pelatih di tempat pusat kebugaran lain.
Sejak 2012, selama setahun Mprie melatih Ajie.
Hubungan pertemanan mereka semakin dekat sampai akhirnya memutuskan untuk membuka usaha bersama.
Kebetulan Ajie sedang membangun gedung dua lantai untuk dijadikan indekos.
Akhirnya, lantai bawah digunakan Ajie untuk usaha.
Mprie yang telah berpengalaman membangun usaha serupa sejak 2001 dan sudah lima kali dengan rekan yang berbeda menyambut baik niat Ajie.
Akhirnya, Desember 2013, pusat kebugaran yang diberi nama Ahara Fitness ini berjalan.
Tak kurang dari Rp110 juta dikeluarkan untuk investasi peralatan dan perlengkapan pusat kebugaran.
Alat yang dimiliki Ahara terbilang lengkap, mulai dari beban manual seperti barbel sampai alat yang bermesin.
Mereka juga menjual susu protein tinggi dan amino, serupa dengan yang dijual di pusat kebugaran bertaraf internasional atau mega gym.
"Sejak pertama buka, belum pernah mendapat kerugian. Omzet kotor yang diraih bisa mencapai Rp20 juta. Walaupun keuntungannya fluktuatif, dalam satu setengah tahun mereka mampu balik modal," ungkap Aji.
Untuk satu program pelatihan Ahara Fitnes hanya mematok harga Rp850 ribu selama 12 kali pertemuan.
Sementara untuk penyewaan alat-alat tanpa pelatih hanya Rp10 ribu per kunjungan.
Jumlah member-nya pun mencapai 150 orang dari usia 15-60 tahun dengan 15% di antaranya ialah perempuan.
Ajie dan Mprie mempekerjakan dua karyawan.
Mereka bertugas sebagai instruktur dan personal trainer sekaligus perawatan alat-alat.
"Member saya rata-rata dari kalangan menengah bawah. Mereka kurang pemahamannya soal alat fitness. Ini yang menjadi tantangan kami juga untuk memberi edukasi kepada mereka dan harus ada perhatian khusus dengan alat agar tidak rusak," jelas Mprie. Studio rumah Sementara itu, jauh sebelum namanya tenar, Liza Natalia sudah membuka usaha studio senam.
Dia telah mengenal dunia senam sejak usia lima tahun karena sang ibu memiliki sebuah studio senam di rumahnya.
Diam-diam, ia suka memperhatikan kegiatan yang dilakukan sang ibu.
Saat SMA, Liza menjadikan studio senam milik ibunya sebagai basis berkumpul grup pemandu sorak sekolah.
Hingga memasuki usia 17 tahun, dirinya memberanikan diri untuk memulai usaha serupa.
"Saya melihat ibu saya begitu menikmati usahanya. Hasrat saya untuk berbisnis pun muncul dan memberanikan diri untuk menjadi instruktur body language dan koreografer catwalk sambil sampingan model," kenang ibu dua anak itu saat ditemui Media Indonesia di studio barunya, kawasan Pasaraya Blok M, Selasa (28/7).
Jerih payahnya berbuah hasil pada 1998 dengan membuka sebuah studio senam dan sekolah instruktur.
Ia membuka usaha tersebut di sebuah ruko kawasan Kebun Jeruk, Jakarta Barat.
Peluang pun semakin terbuka lebar dengan tawaran peluncuran produk, pelatihan model, dan talent video klip yang berasal dari studio miliknya.
Hingga pada suatu waktu ada salah satu member menawari Liza menjadi ikon sebuah tayangan televisi.
"Saat sibuk syuting studio tetap saya pertahankan. Semakin saya dikenal orang, banyak member baru yang bergabung dengan studio saya," lanjutnya.
Dalam seminggu, Liza membuka hingga enam kelas.
Program yang ditawarkan member dihargai Rp750 ribu per bulan.
Omzetnya pun saat itu melebihi angka Rp20 juta per bulan dengan biaya tetap Rp1 juta untuk satu karyawan dan sewa ruko Rp10 juta per bulan.
Di balik ketenarannya, mempertahankan keberadaan studio ialah hal yang penting.
"Saya harus tetap punya basecamp," katanya.
Ia pun berhasil melebarkan usahanya dengan membuka empat cabang yang tersebar di Jakarta Barat, Utara, dan Selatan.
Hingga pada akhirnya Liza memiliki sebuah tempat pelatihan Zumba pada 2010 di Kemang, Jakarta.
Omzet yang diraih saat itu mencapai Rp80-150 juta per bulan.
Dengan modal yang dikeluarkan sekitar Rp350 juta, dalam delapan bulan,
Liza mengaku sudah balik modal.
"Saya sampai ke Amerika untuk training Zumba. Dalam setahun, saya juga pergi ke Belanda, Australia, Malaysia, dan Singapura untuk membangun jaringan Zumba," kisahnya.
Liza memang tidak tanggung-tanggung untuk berbisnis.
Sesampainya di Jakarta, untuk menarik minat pasar, ia menghadirkan pelatih langsung dari AS dan Kolombia.
Promosi tersebut berhasil dan Liza mampu menarik member tak kurang dari 1.300 orang.
Namun, sejak enam bulan lalu, studio itu tutup lantaran habis kontrak penyewaan.
Liza pun kembali memutar otak dan kini sedang mempersiapkan studio baru dengan tambahan fasilitas spa dan salon. (M-5)