SELAIN potongan harga (diskon), apa lagi yang membuat Anda memilih untuk mengunjungi pusat perbelanjaan tertentu?
Di tengah persaingan yang sedemikian ketat, pengelola pusat perbelanjaan biasanya menawarkan banyak fasilitas untuk membuat uang belanja konsumen jatuh pada pundi miliknya.
Salah satunya melalui fasilitas parkir gratis.
Sebuah penelitian yang dilakukan The Automobile Association (AA) menyebut fasilitas parkir gratis cukup atraktif menarik minat konsumen.
Penelitian tersebut dihelat setelah sebuah pusat perbelanjaan di Kota Welsh, Cardigan, Inggris Raya, menunjukkan adanya kenaikan penjualan (omzet) hingga 50% setelah mesin parkir di mal itu rusak.
"Hampir tiga perempat pengendara mengatakan tarif parkir menentukan mereka untuk mengunjungi pusat kota, penginapan, atau suatu wahana," ungkap penelitian tersebut seperti dilansir Dailymail.co.uk, kemarin
The AA pun menyebut warga juga mengkritisi tarif parkir di area wisata yang mahal.
Pengelola Pantai Brighton, misalnya, mengenakan tarif parkir 25 euro (Rp370.200) per 6 jam.
Padahal, di Eastbourne, pengunjung hanya dikenai tarif parkir tetap (flat), 7 euro (Rp103.656) per 6 jam.
Tingginya tarif itu membuat pemerintah setempat tahun ini mencatatkan rekor tertinggi pendapatan tarif parkir sebesar 687 juta euro, atau Rp10,2 triliun.
Meski demikian, pejabat setempat membantah tarif parkir itu dipakai untuk meningkatkan pendapatan daerah.
"Sebanyak 89% percaya tarif parkir itu bertujuan menggenjot penerimaan bagi pemerintah," jelas The AA.
Presiden The AA Edmund King mengatakan kecurigaan seperti itu wajar dan cukup mengakar di benak warga.
Sekadar membandingkan, umumnya tarif parkir di negeri ini diatur pemerintah daerah.
Di Jakarta misalnya, mengacu pada Peraturan Daerah 179/2013, tarif parkir di jalan dipatok per jamnya ialah Rp5.000 untuk mobil dan Rp2.000 untuk sepeda motor yang berlaku tetap.
Kendati sempat memberlakukan tarif progresif, Pemprov DKI Jakarta kembali memberlakukan tarif flat pada Sabtu (1/7).
Tujuannya jelas, agar pengguna kendaraan pribadi yang akan menuju pusat kota berpikir dua kali untuk berkendara sendiri, Hal itu seiring dengan program pemerintah mendorong warga memakai transportasi publik untuk mengurangi kemacetan.
Bahkan, pemerintah daerah menyediakan kawasan parkir tertentu di pinggir kota yang terintegrasi dengan transportasi publik bertarif rendah seperti commuter line dan bus untuk angkutan perbatasan terintegrasi busway (APTB).
Beberapa hotel dan mal memang ada yang menawarkan fasilitas parkir gratis.
Namun, lebih banyak yang malah menerapkan tarif progresif nan mahal, terutama pusat perbelanjaan dan destinasi di pusat kota.
Ada juga pengusaha yang menerapkan aturan 'dilarang parkir selain pengunjung'.
Padahal, ramainya parkiran sering menjadi penanda tingginya minat orang untuk berbelanja atau berkunjung.
Karena itu, jika toko Anda baru dibuka dan masih sedikit pengunjung yang datang, Anda bisa menyiasatinya dengan menyuruh karyawan membawa kendaraan dan memarkirkannya di depan toko Anda sehingga toko Anda yang baru dibuka akan terlihat ramai.