Pemerintah Tahan Harga BBM

Dero Iqbal Mahendra
01/8/2015 00:00
Pemerintah Tahan Harga BBM
(MI/SUSANTO)
PEMERINTAH mempertahankan harga solar subsidi dan premium pada bulan ini meski impak tren harga minyak dunia membebani PT Pertamina (persero) selaku penyalur duo jenis BBM tersebut.

Hal itu diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said di Jakarta, kemarin.

Sudirman mengatakan, saat memasuki Agustus, harga premium dan solar subsidi tidak akan berubah.

Harga premium di Rp7.300 per liter dan solar subsidi Rp6.900.

Kebijakan itu diambil demi melihat pola pergerakan harga BBM dalam setahun.

Hal tersebut, menurutnya, penting untuk pengambilan kebijakan penetapan harga BBM di masa datang.

Terlebih, pemerintah ingin agar masyarakat dapat merasakan stabilitas harga.

"Tidak ada kebijakan yang memuaskan semua pihak, ketika harga turun, orang protes. Dinaikkan, lebih parah protesnya. Naik-turun sering juga diprotes. Bahkan, jika kita diam saja berbulan-bulan tetap masih diprotes," ujarnya.

Menurut Sudirman, pihaknya membuka opsi untuk mengubah kebijakan penetapan harga dalam periode yang lebih panjang dari tiga bulanan seperti saat ini.

Namun, itu akan diputuskan pada November esok yang menggenapi momen setahun kebijakan perubahan mekanisme subsidi BBM.

"Kecenderungannya nanti akan 6 bulan sekali harga BBM ditinjau, tapi nanti baru November diputuskan," kata dia.

Sebelumnya, Dirjen Migas Kementerian ESDM IGN Wiratmaja Puja sempat mengatakan ada kemungkinan harga premium dinaikkan pada Agustus.

Tujuannya mencegah kerugian Pertamina kian menumpuk.

Sebab, meski harga minyak dunia sekarang mulai turun lagi di bawah US$50 per barel, kontrak pembelian minyak mentah dan BBM Pertamina dilakukan tiga bulan sebelumnya saat harga sedang naik.

Jika disesuaikan dengan kenaikan harga rata-rata mean of plats Singapore (MOPS) dan evaluasi tiga bulanan, premium semestinya dibanderol Rp8.850 per liter pada Agustus.

Terkait dengan kerugian Pertamina, Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Agus Cahyono Adi menjelaskan, berdasarkan estimasi BUMN itu, terjadi defisit Rp12 triliun untuk premium dan Rp500 miliar untuk solar selama Januari-Juli 2015.

Ia menekankan, pemerintah masih akan melihat pergerakan harga minyak dunia, yang beberapa pekan ini kembali turun untuk melihat apakah kerugian itu dapat terkompensasi di akhir tahun.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro berjanji pemerintah tidak akan membiarkan Pertamina merugi.

"Ini yang mau digunakan ialah price smoothing," ungkapnya.

Efisiensi
Saat dihubungi, Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, mengatakan kebijakan pemerintah untuk mempertahankan harga premium dan solar pada bulan ini sudah pasti membuat perseroan merugi.

Namun, perusahaan pelat merah itu akan tetap mengikuti keputusan pemerintah.

"Soal BBM sudah pasti rugi karena itu kan selisih dari harga keekonomian yang seharusnya berlaku dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Ini khususnya berlaku terakhir 28 Maret ada penyesuaian," jelasnya, kemarin.

Untuk menangani hal itu, lanjut Wianda, Pertamina berusaha untuk mengefisiensi bisnis tersebut pada bagian selain penjualan.

Sebagai contoh melalui proses pengadaan secara sentralisasi, termasuk untuk pengadaan impor minyak mentah dan produk-produk kilang.

"Kita tadinya impor minyak mentah melalui Petral, tapi sejak Januari kita lewat ISC (Integrated Supply Chain). Dari situ sudah ada penghematan US$172 juta sampai Mei," tutur Wianda. (Fat/Wan/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya