PT Bank Mandiri Tbk menghimpun laba bersih Rp9,9 triliun pada akhir Juni 2015. Jumlah tersebut naik 3,1% ketimbang perolehan pada periode sama di tahun lalu. Pertumbuhan single digit itu antara lain karena strategi bank untuk menambah provisi seiring naiknya tekanan atas kualitas kredit.
"Policy kami ialah menjaga sebagian income ke cadangan sebagai antisipasi. Kita lihat perlambatan ekonomi akan berjalan 3-4 kuartal ke depan. Jadi lebih baik kita punya cadangan cukup," kata Direktur Utama Bank Mandiri Budi G Sadikin dalam paparan kinerja perseroan di Jakarta, kemarin.
Meski pertumbuhan ekonomi sedang melambat, menurut Budi, Bank Mandiri tetap dapat menjaga momentum pertumbuhan. Aset bank pelat merah itu naik 19,5% per akhir Juni. Kenaikan aset dimotori oleh kredit yang tumbuh 13,8% menjadi Rp552,8 triliun. "Kalau konsolidasi dengan anak usaha, pertumbuhan kredit sekitar 13%. Tapi kalau Bank Mandiri saja, kredit tumbuh di atas 15%," ucap Budi.
Hingga triwulan II, penya-luran kredit terbesar ialah ke sektor industri pengolahan, yakni sebesar Rp106,5 triliun. Disusul kredit sektor perdagangan, restoran, dan hotel Rp92,3 triliun. Khusus sektor UMKM, gelontoran kredit Bank Mandiri mencapai Rp74,4 triliun, didorong oleh kredit usaha mikro dan menengah yang masing-masing tumbuh 25,8% dan 19,7%.
Lebih lanjut, Budi mengatakan target pertumbuhan kredit sampai akhir tahun dipertahankan di kisaran 13%-15%. "Kami rasa akan mencapai target itu. Kami konsentrasi kredit mikro karena masih bisa terus double digit," ujarnya. Adapun rasio kredit bermasalah (nonperfoming loan/NPL) gros disebutnya naik 0,2% ke kisaran 2%. Perihal dana pihak ketiga (DPK), Budi mengatakan pertumbuhannya 17,8% ke Rp654,9 triliun. Kinerja BJB Performa positif juga diperlihatkan Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (Bank BJB) dengan mencatat perolehan laba bersih Rp582 miliar atau naik 21,8% year on year (yoy). Menurut Direktur utama Bank BJB Ahmad Irfan, faktor utama pendorong pertumbuhan laba ialah pendapatan bunga bersih yang naik 10%.
Di samping itu, ada pula faktor program credit recovery yang berhasil menurunkan NPL ke 3,6%. Emiten berkode BJBR itu pun mencatat peningkatan aset sebesar 22,1% menjadi Rp95,9 triliun. Ahmad mengatakan itu didorong oleh pertumbuhan DPK yang mencapai 32,4% dan laju kredit 11%.
"Pertumbuhan kredit itu berada di atas pertumbuhan kredit (industri) perbankan yang hanya 10,5%," jelasnya dalam siaran pers, kemarin. Lebih lanjut, ia mengatakanpada tahun ini pihaknya akan tetap fokus pada strategi dan kebijakan untuk memperkuat fondasi bank. "Khususnya yang berkaitan dengan infrastruktur IT serta SDM guna menunjang ekspansi bisnis di tahun-tahun mendatang," kata Ahmad.