Proyek Listrik Panggil Usaha Lokal

MI/Anshar Dwi Wibowo
31/7/2015 00:00
Proyek Listrik Panggil Usaha Lokal
(MI/Panca Syurkani)
PEMERINTAH memberikan kesempatan yang luas kepada perusahaan nasional untuk berpartisipasi dalam proyek transmisi listrik sepanjang 46 ribu kilometer. Proyek yang merupakan bagian dari program listrik 35 ribu megawatt (Mw) ditaksir bernilai Rp200 trilun-Rp250 triliun. "Ini kalau dilakukan, dari ujung ke ujung pengusaha menengah kecil akan hidup. Apalagi dalam ekonomi yang seperti ini kan keputusan sangat baik," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said seusai melakukan rapat mengenai kelistrikan di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, kemarin.

Rapat tersebut di antaranya dihadiri Menteri Perindustrian Saleh Husin, Direktur Utama PLN Sofyan Basir, dan Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno. Sudirman menjelaskan nantinya pemerintah akan menunjuk PLN sebagai pemimpin proyek transmisi. "PLN akan (teken) tiga kontrak, satu membeli bahan baku kepada Krakatau Steel dan produsen baja, yang kedua membuat bahan-bahan yang mau dirakit, yang ketiga konstruksi. Nanti konstruksinya akan melibatkan kontraktor daerah sebanyak mungkin. Semua tingkat industri akan hidup," tutur Sudriman.

Dengan tujuan mengedepankan potensi lokal, mekanisme build-operate-transfer (BOT) dengan negara lain tidak akan diterapkan. Pemerintah, lanjut Sudirman, ingin proyek transmisi terbangun dengan menggunakan sebesar-besarnya sumber daya lokal. Dirut PLN menambahkan, pembiayaan proyek transmisi berasal dari Japan International Cooperation Agency (JICA), ditambah dana perseroan dan penyertaan modal negara (PMN).

Estimasi dana yang dikeluarkan sekitar Rp40 triliun per tahun dengan PMN Rp8 triliun. Guna mempercepat pembangunan transmisi, Sudirman mengatakan pemerintah tengah menyusun draf peraturan presiden (perpres). "Payung hukum sedang disiapkan supaya sebagian proses itu tidak perlu tender."

Sementara itu, Wakil Ketua Unit Pelaksana Program Pembangunan Ketenagalistrikan Nasional (UP3KN) Agung Wicaksono mengungkapkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batang, Jawa Tengah, segera memasuki tahap pembangunan. Peletakan batu pertama pembangkit yang diklaim terbesar di Asia Tenggara itu akan dilakukan pada September mendatang.

Agung menyatakan pembangunan PLTU berkapasitas 2 x 1.000 Mw tersebut harus terealisasi tahun ini agar Pulau Jawa terhindar dari krisis listik pada 2019.

Energi terbarukan
Di sisi lain, pemerintah terus berupaya memancing investor agar mengembangkan pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan (EBT). Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan pemerintah telah merevisi tarif listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Selanjutnya, pada Agustus-September mendatang, Kementerian ESDM akan meluncurkan tarif beli listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap bangunan, PLT bayu, PLT biogas, dan PLTP biomasa.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya