Mandiri Raup Laba Rp7,1 T

Anastasia Arvirianty
27/7/2016 09:30
Mandiri Raup Laba Rp7,1 T
(Dok.MI)

PT Bank Mandiri Tbk mencetak laba bersih Rp7,1 triliun. Laba tersebut turun 28% ketimbang periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).

Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas menjelaskan penurunan laba disebabkan kenaikan biaya provisi dari Rp4 triliun di kuartal II 2015 menjadi Rp9,9 triliun di kuartal II 2016. Peningkatan pencadangan itu untuk meng­antisipasi kenaikan risiko rasio kredit bermasalah. “Kami tetap bersyukur atas pencapai­an ini,” kata Rohan di Jakarta, kemarin (Selasa, 26/7).

Jika tidak dikurangi pencadangan, lanjutnya, pendapatan perseroan ialah Rp19,3 triliun yang setara dengan pertumbuhan 13,3% dari pendapatan setahun lalu.

Dari segi kredit, penyaluran naik 10,5% yoy sehingga secara konsolidasi, outstanding kredit Bank Mandiri mencapai Rp610,9 triliun. Kredit mikro tumbuh tertinggi di antara segmen lain, yaitu 15,9% yoy menjadi Rp46 triliun pada Juni 2016.

Kenaikan kredit dibarengi pergerakan serupa pada rasio kredit bermasalah (NPL) gross dari 2,43% menjadi 3,86%. Peningkatan paling tajam di­sumbang segmen komersial, terutama debitur sektor industri. “Semester II 2016 kami akan jaga NPL di angka 3%-3,5%,” lanjut Rohan.

Adapun dana pihak ketiga naik 5,6% menjadi Rp691,4 triliun per akhir Juni 2016 “Untuk memperkuat struktur aset produktif yang lebih solid, kami membentuk pencadang­an dan menerapkan kebijakan loan loss coverage yang cukup konservatif,” kata dia.

Walau kinerja mereka dalam tekanan, bank pelat merah itu tetap berkomitmen memperkuat bisnis di sektor-sektor potensial. Saat ini, Bank Mandiri menyiapkan platform pengembangan bisnis secara anorganik di luar negeri. “Kami mengkaji kemungkinan untuk mengembangkan bisnis ke tiga negara ASEAN, yaitu Fi­lipina, Vietnam, dan Myanmar,” ungkap Rohan.

Adapun Bank Mandiri telah memiliki kantor di Hong Kong, Singapura, Shanghai, London, Kepulauan Cayman, Dili, serta satu kantor perwakilan di Malaysia.

Menurut rencana, Bank Mandiri akan menggandeng mitra lokal untuk menembus pasar di tiga negara tersebut. “Kami akan membentuk tim untuk menjajaki potensi dan peluang-peluang di sana.”

Dalam dolar
Di lain hal, PT Mandiri Manajemen Investasi (Mandiri Investasi), kemarin, merilis produk terbaru mereka, Mandiri Global Sharia Equity Dollar.

Anak usaha Bank Mandiri tersebut menjadi manajer investasi lokal pertama yang menerbitkan reksa dana saham syariah berbasis efek syariah luar negeri. Dirut Mandiri Investasi Muhammad Hanif mengatakan kehadiran Mandiri Global Sharia Equity Dollar ialah untuk menjawab minat investor yang ia nilai cukup besar terhadap jenis reksa dana tersebut. “Produk ini merupakan alternatif instrumen investasi dalam denominasi dolar AS,” tutur Hanif di Gedung BEI, Jakarta, kemarin (Selasa, 26/7).

Diperlukan US$10 ribu sebagai nominal investasi awal dalam reksa dana syariah global itu. Selain itu, produk itu akan menggunakan S&P Dow Jones Index sebagai tolok ukur atau acuan pengelolaan portofolio global. Mandiri Investasi pun menjalin kolaborasi dengan JP Morgan Asset Management yang merupakan MI global terkemuka sebagai technical advisor atau penasihat teknis.

“Kami berharap dapat berpartisipasi dalam pengembangan industri manajemen aset di Indonesia,” kata CEO JP Morgan Asset Management (Singapura) LTd Steven Billet dalam kesempatan serupa.

Per Juni 2016, Mandiri Investasi membukukan dana kelolaan Rp33 triliun. “Target dana kelolaan kami sampai akhir tahun Rp40 triliun, dan US$15 juta-US$20 juta disumbang produk baru ini untuk memenuhi target itu,” tandas Hanif. (Ant/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya