Tekan Harga Jangan Wacana

Nuriman Jayabuana
27/7/2016 08:30
Tekan Harga Jangan Wacana
(ANTARA/Ampelsa)

LONJAKAN harga gula yang kerap terjadi di Tanah Air masih menjadi momok bagi masyarakat, terutama menjelang hari raya. Pemerintah hingga kini masih berkutat pada upaya menekan harga gula menjadi Rp12.500 per kilogram dengan sejumlah strategi guna meningkatkan pasokan di dalam negeri.

“Harga gula masih tinggi, sekitar Rp16 ribuan per kg. Tadi dibahas beragam upaya menurunkan harga,” ujar Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto seusai rapat koordinasi di Kemenko Perekonomian, Jakarta, kemarin (Selasa, 26/7).

Namun, strategi jangka pendek dengan membanjiri pasokan gula di dalam negeri dengan pasokan impor juga tidak mudah sebab banyak negara produsen gula juga gagal memenuhi target produksi.

Sebelumnya, pemerintah telah menerbitkan izin impor 114 ribu ton gula mentah (raw sugar) yang akan diolah menjadi gula konsumsi sebelum digelontorkan ke pasar. “Tapi belum ada yang masuk karena dari Brasil dan Thailand juga agak susah,” tuturnya.

Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro mengatakan proses importasi gula mentah masih dalam tahap tender.

“Sudah diundang produsen-produsen gula besar dunia. Ada dari Australia, Brasil, dan Afrika, lagi dibahas pe­ngadaannya,” ujar Wahyu.

Beberapa BUMN yang mendapat kuota impor tersebut ialah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX, X, XI, XII, dan Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). “Mereka mau pengadaannya berbarengan, lagi dibuat standard operating procedure, mungkin lelangnya selesai minggu ini,” kata dia.

Bila tidak menemui hambatan, ia memperkirakan pasokan gula impor dapat masuk pertengahan Agustus dan memenuhi pasar di awal Oktober 2016. “Itu upaya untuk menstabilisasi harga sampai akhir tahun tidak lebih tinggi dari Rp12.500 per kg.”

Produksi gula dalam negeri diproyeksikan mampu mencapai 2,6 juta-2,7 juta ton. Produksi gula dari perusahaan BUMN bakal sedikit meleset dari target lantaran musim tanam tebu dilakukan saat La Nina.

Situasi tersebut bakal meningkatkan produksi padi, tapi diperkirakan bakal menurunkan produktivitas gula karena rendemen. “Pasti akan turun. Kalau yang BUMN tahun lalu produksi bisa 1,5 juta ton, paling tahun ini jadi 1,3 juta-1,4 juta ton,” ujar dia.

Pabrik dan kebun
Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengungkapkan pemerintah telah menyepakati program peningkatan produksi gula nasional. Program tersebut menyasar peningkatan kapasitas produksi pabrik gula yang sudah ada (intensifikasi) dan juga penyediaan lahan baru khusus untuk pabrik gula (ekstensifikasi).

“Untuk ekstensifikasi, kami telah siapkan lahan baru kurang lebih 380 ribu hektare. Kalau bisa gerak cepat dalam 3-5 tahun, sudah bisa menghasilkan tambahan produksi gula. Mudah-mudahan dengan itu bisa mencapai target produksi,” ujar Amran.

Ia memperkirakan pembukaan lahan baru tersebut bisa menampung ekstensifikasi pembangunan 13 pabrik gula baru dan bakal mendatangkan investasi yang cukup besar.

“Kalau satu pabrik yang on farm dan out farm, masing-masing membutuhkan Rp5 triliun dengan kapasitas 10 juta ton cane per day (TcD),” tandasnya. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya