Sewa Ayam saja saat Harga Telur Mahal

MI
30/7/2015 00:00
Sewa Ayam saja saat Harga Telur Mahal
(MI/Seno)
BILA di negeri ini fenomena kenaikan harga bahan pokok makanan sering terjadi tanpa sebab yang jelas, lain halnya di Amerika Serikat (AS). Warga 'Negeri Paman Sam' kini dipusingkan lonjakan harga telur ayam di pasaran yang mencapai 85% sejak Juni 2015.

Berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja AS, itu terjadi lantaran merebaknya virus flu burung yang berdampak pada pemusnahan ayam petelur secara nasional.

Namun, pasangan suami istri Jenn dan Phil Tompkins yang tinggal di Freeport, Pennsylvania, memberi solusi untuk masalah ini. Mereka menggagas Renthechicken.com, sebuah situs penyewaan ayam petelur.

"Bisnis ini tidak sekadar memangkas harga telur, tetapi juga dapat mengubah cara pandang terhadap makanan," ujar Jenn, 38, dilansir Yahoo.com, pekan lalu.

Menurutnya, orang akan lebih senang mengetahui dari mana makanan mereka berasal. "Selain itu, mereka juga dapat menanam tomat dan memupukinya dengan kompos dari kotoran ayam."

Sejak memulai bisnis rumahan itu pada musim panas 2013, mereka telah menyewakan ayam-ayam petelur, baik secara langsung maupun melalui afiliasi. Pelanggan mereka mencapai 200 orang dari 12 perusahaan afiliasi di negara-negara bagian AS, hingga Ontario dan Prince Edward Island di Kanada.

Jenn dan Phil mematok harga sewa US$400 (Rp5,4 juta) untuk dua ayam petelur selama empat hingga enam bulan, lengkap dengan kandang dan buku panduan.

Jika dibandingkan dengan harga telur di toko grosir yang berkisar US$16 (Rp208 ribu) per lusin, biaya sewa itu memang tergolong mahal. Namun, ayam dari Tompkins mampu menghasilkan delapan hingga 14 telur per minggu.

"Anda membeli telur sedemikian mahal di toko, tetapi tidak tahu dari mana telur itu berasal, lebih baik sedikit mahal, tapi tahu dari mana itu berasal," kata Phil, seperti dilansir dari Marketwatch.com, Selasa (28/7).

Selain itu, pelanggan bebas memulangkan ayam kapan saja dan di akhir masa penyewaan mereka diperbolehkan membeli ayam-ayam itu.

Contohnya, pasangan Hope, 37, dan Paul Stambaugh, 40, warga Export, Pennsylvania, pinggiran Pittsburgh, yang menyewa empat ayam petelur seharga US$600. Ia bahkan berencana membeli empat ayam itu dan akan memelihara lebih banyak ayam. Hal itu seiring dengan kebijakan Pemerintah Kota Pittsburgh yang membolehkan warga memelihara ayam petelur, bebek, kambing, atau lebah.

"Anak-anak kami merasa spesial melihat makanan mereka tidak dibeli dari toko," ujar Hope. (Theresia Putri/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya