Rasio Kredit Seret Terus Meningkat

Fathia Nurul Haq
22/7/2016 10:30
Rasio Kredit Seret Terus Meningkat
(MI/Galih Pradipta)

RASIO kredit bermasalah alias non-performing loan (NPL) bruto industri perbankan nasional menembus 3% per Mei lalu. Tren kenaikan NPL diestimasi masih akan berlangsung sampai kuartal III ini.

Seperti dikutip dari siaran pers Bank Indonesia (BI) kemarin (Kamis, 21/7), per Mei 2016 NPL berada di 3,1% gross. Angka itu meningkat dari kisaran 2,7% hingga 2,8% yang sebelumnya dapat dipertahankan industri perbankan di awal 2016. Batas aman maksimal 5% .

Ekonom BCA David Sumual mengatakan tren kenaikan NPL perbankan masih dipengaruhi perlambatan pertumbuhan ekonomi, juga harga komoditas. "Jangan lupa total kredit juga sedang melambat, hanya tumbuh 8%-an, sementara NPL itu rasio kredit bermasalah dibandingkan total kredit," kata dia saat dihubungi, kemarin.

Prediksi David, kualitas kredit mulai berbalik membaik di kuartal ini. Itu seiring dengan relaksasi kebijakan suku bunga ataupun kebijakan makroprudensial dari BI, misalnya pelonggaran jumlah uang muka untuk kredit rumah. Kebijakan pemerintah, seperti amnesti pajak, juga ia anggap bisa membantu mempercepat pemulihan ekonomi dalam negeri.

"Kita harus segera hapus hambatan di sektor riil. Memang sekarang mulai membaik. Penjualan mobil, semen, misalnya, mulai positif, tapi belum signifikan," ucap David. Jika perekonomian sudah pulih, ia yakin kualitas kredit akan meningkat.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede berharap tingginya NPL tidak mendasari perbankan menunda penyaluran kredit. Apalagi, senada dengan David, ia melihat daya beli masyarakat mulai naik.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Makroekonomi dan Moneter BI Juda Agung memprediksi suku bunga kredit bank bisa turun 1% karena beban biaya dana menurun 0,8%, ditambah dengan melimpahnya likuiditas sebagai dampak kebijakan amnesti pajak.

Menurut dia, hingga Juli 2016, suku bunga kredit sudah turun 0,45% dengan pelonggaran BI rate yang sepanjang tahun ini sudah mencapai 1%. Dengan likuiditas yang membaik, ia berharap perbankan dapat mempercepat penyaluran kredit untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

Mesti 5,3 %
Sebelumnya, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro memproyeksikan perekonomian nasional bisa tumbuh lebih tinggi pada semester II 2016, mencapai kisaran 5,3%. Level itu mesti dicapai lantaran perekonomian semester I ia estimasi tumbuh 5%, dengan target pertumbuhan untuk keseluruhan 2016 ialah 5,2%.

"Harapannya dengan menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga dan investasi," kata Bambang di Jakarta, Rabu (20/7) malam.

Menurutnya, pemerintah akan berupaya menjaga konsumsi rumah tangga dengan menjaga daya beli masyarakat. Sektor investasi juga diharapkan bisa mengangkat perekonomian melalui percepatan belanja modal pemerintah dan kontribusi swasta sebagai dampak awal dari program amnesti pajak.

Pada semester I, penyerapan belanja modal mencapai Rp44,4 triliun dari alokasi sekitar Rp300 triliun. Secara nominal, jumlah itu naik dari setahun lalu, Rp26,9 triliun. Realisasi belanja kementerian/lembaga keseluruhan mencapai Rp262,8 triliun atau 34,2% dari pagu.

Total belanja pemerintah pusat mencapai Rp481,3 triliun (36,8%). dan transfer ke daerah dan dana desa Rp384 triliun (49,5%).

Di sisi penerimaan, baru terhimpun Rp634,7 triliun (35,5%) dari pagu APBN-P Rp1.786,2 triliun. Alhasil, defisit kini mendekati batas 2,35% yang ditetapkan pemerintah. "Defisit kita 1,83% dari PDB (produk domestik bruto) atau sekitar Rp230,7 triliun." (Ant/Jay/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya