Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
TUJUH sektor industri, yakni makanan, listrik, gas dan air, kimia dasar, barang kimia dan farmasi, konstruksi, serta mineral non-logam, mendominasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) selama triwulan II.
Jika ditilik dari karakteristik penanaman modal, PMDN pun menyasar wilayah investasi di Jawa Barat dengan nilai Rp15,4 triliun, Jawa Timur Rp12,6 triliun, DKI Jakarta Rp8,3 triliun, Jawa Tengah Rp7,2 triliun, dan Sumatra Selatan Rp7,2 triliun. Demikian pernyataan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani kemarin.
"Penanaman modal asing (PMA) juga memilih daerah-daerah yang memiliki fasilitas prasarana dan infrastruktur perindustrian memadai seperti Jawa Barat senilai US$3,6 miliar, DKI Jakarta US$1,6 miliar, Kalimantan Timur US$1,2 miliar, Banten US$1,0 miliar, dan Jawa Timur US$0,8 miliar. Lima negara dengan realisasi investasi terbesar, yakni Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan AS," kata Franky.
Lebih jauh Franky mengungkapkan realisasi penyerapan tenaga kerja ikut terdorong seiring dengan realisasi investasi pada semester I 2015. Serapan tenaga kerja dari triwulan I tercatat 315.229 jiwa dan pada triwulan II menjadi 370.945 jiwa. Dia berharap realisasi investasi di kuartal III kian memperluas lapangan pekerjaan untuk menekan angka pengangguran.
"Ke depan, kami akan menggiring investasi ke sektor maritim dan pariwisata. Tren kenaikan investasi di sektor maritim semester I mencapai 40,62% dan pariwisata dan kawasan meningkat hingga 144,4%. Begitu halnya industri hilir, substitusi impor, dan infrastruktur," ujar Franky.
Akan tetapi, menurut pengamat ekonomi UGM Revrisond Baswir, serapan tenaga kerja akibat pertumbuhan investasi tersebut belum berdampak langsung pada perekonomian negara.
"Jika ingin melihat pengaruhnya pasti ada time lag untuk kondisi ekonomi kita, tidak langsung ada. Publik pun mesti menunggu data BI dan BPS," ungkap Revrisond.
Menurut Revrisond, data BKPM menunjukkan masih banyak investasi yang baru dalam kategori minat atau masih banyak yang belum terjadi realisasi.
"Nanti terlihat dari data BI atau BPS karena realisasi investasi berarti ada modal asing masuk dan memengaruhi jumlah dolar yang masuk sehingga berpengaruh pada moneter."
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved