Mengembalikan Citra Negara Maritim

Gabriela Jessica Restiana Sihite
20/7/2016 14:03
Mengembalikan Citra Negara Maritim
(ANTARA/M Agung Rajasa)

INDONESIA dikenal sebagai negara maritim karena luas lautnya yang lebih besar dari luar daratannya. Namun, tidak dikelolanya hasil laut dan ikan secara maksimal membuat persepsi negara maritim menjadi pudar di mata pemerintah.

Deputi II Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Maritim dan Sumber Daya Agus Kuswandono mengatakan baik masyarakat dan pemerintah selama ini seperti telah mengabaikan potensi laut Tanah Air.

Kondisi negara maritim yang berjaya pada dahulu kala mulai memudar karena tidak dikembangkannya hasil laut dan industri pengolahannya.

"Kelemahan kita, punya sumber daya alam yang sangat besar, tapi belum punya industri nilai tambah yang murni. Padahal produksi ikan di sini sampai berjuta-juta ton, tapi ikan yang ditangkap kemudian mau diapakan? Kita hanya tangkap, jual, tangkap, jual" tukas Agung dalam rapat koordinasi di Makassar, Rabu (20/7).

Menurut Agung, kondisi tersebut yang justru membuat pencurian ikan oleh kapal asing sempat merebak. Karena nelayan tidak mampu menyimpan terlalu lama, apalagi mengolahnya, mau tidak mau mereka menjual ikan tersebut kepada kapal asing.

"Pencurian ikan tidak hanya berarti mereka datang lalu curi ikan kita sendiri, tapi juga berarti mereka ambil ikan-ikan kita yang semestinya bisa kita olah," ucap Agung.

Karena itu, menurutnya, penting bagi Indonesia punya industri penyimpanan hasil tangkap laut berupa cold storage dan industri pengolahan. Nelayan-nelayan Indonesia harus diberikan fasilitas cold storage supaya lebih efisien.

Adapun dari rencana Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), kata Agung, enam jenis fasilitas pendukung produksi kelautan dan perikanan bakal dibangun tahun ini.

Keenam jenis fasilitas itu, antara lain integrated cold storage skala besar dan kecil sebanyak 29 unit, single cold storage sebanyak 29 unit, ice flake machine skala besar sebanyak 23 unit, gudang rumput laut 7 unit, pabrik rumput laut 10 unit, dan pabrik tepung ikan 3 unit.

Fasilitas-fasilitas tersebut rencananya dibangun tersebar di seluruh wilayah Tanah Air.

"Integrated cols storage juga sudah masuk sebagai proyek strategis nasional. Di Sulawesi sendiri ini akan dibangun 5 unit di Parigi Moutong, Morowali, Sangihe, Kepulauan Talaud, dan Buton," papar Agung.

Namun, Agung menyoroti masih minimnya pasokan listrik di berbagai wilayah di Tanah Air. Listrik yang belum ada sepenuhnya di daerah membuat industri cold storage dan pengolahan stagnan atau tidak berkembang.

"Memang kondisi listrik di Indonesia masih menjadi masalah besar karena belum semua wilayah terjangkau listrik. Kita mau susun bagaimana rencana ke depan terkait hal tersebut supaya pembangunan infrastruktur kemaritiman bisa dilakukan terus-menerus. Kita mau bangkitkan lagi kejayaan kita sebagai negara maritim," tuturnya.

Di kesempatan yang sama, Wakil Wali Kota Makassar Syamsu Rizal mengeluhkan dari 1,8 juta penduduk di kotanya, hanya 9% yang bekerja di sektor kemaritiman. Para nelayan tidak bertambah karena minimnya infrastruktur yang ada.

"Padahal dulu Makassar dikenal sebagai daerah maritim, tapi sekarang lebih dikenal wisata kulinernya dan karena pembangunan wilayah Timur," cetus Rizal.

Dia pun menilai dengan jumlah pekerja di sektor tersebut yang hanya 9%, potensi sumber daya laut di Makassar belum tergarap dengan optimal. Produksi ikan di sana yang sebesar 80-100 ton pee hari dinilai Rizal masih kecil dan perlu digenjot.

Rizal pun mengatakan tahun ini anggaran untuk sektor kelautan dan perikanan sudah ditambah menjadi Rp34 miliar dari Rp28 miliar pada tahun lalu.

"Kita berharap tambahan anggaran ini bisa diikuti keinginan nelayan, termasuk menghasilkan hal yang popduktif," ujarnya.

Saat ini, kata Rizal, Makassar punya satu cold storage dengan kapasitas 40 ton. Pihaknya berencana menambah satu cold storage dengan kapasitas 100 ton untuk bisa menampung produksi nelayan Makassar.

"Instalasi listriknya juga sudah siap, tinggal energinya nih kita harap dari PT Pertamina," imbuh Rizal. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya