Selandia Baru Usulkan Indonesia Jadi Pusat Produksi Susu Asia Tenggara

Desi Angriani
19/7/2016 10:06
Selandia Baru Usulkan Indonesia Jadi Pusat Produksi Susu Asia Tenggara
(ANTARA FOTO/Umarul Faruq)

PEMERINTAH Indonesia dan Selandia Baru meningkatkan kerja sama di bidang perdagangan dan pangan. Dalam penandatanganan nota kesepahaman, Indonesia diusulkan menjadi pusat produksi susu di Asia Tenggara.

"Saya menyambut baik investasi Selandia Baru sejak 2014 di sektor pengelolaan susu dan produk susu. Indonesia diusulkan agar dapat dijadikan pusat produksi produk susu di Asia Tenggara," ujar Presiden Joko Widodo saat menerima kunjungan PM Selandia Baru John Key di Istana Merdeka, Senin (18/7).

Selain sektor peternakan, kedua negara juga menyepakati kerja sama produk padi dan ekspor buah tropis dari Indonesia ke Selandia Baru.

"Kita sepakat untuk memperkuat kerja sama di bidang leading sektor dan juga yang berkaitan dengan produk padi," kata Presiden.

Indonesia juga fokus meningkatkan kerja sama di bidang energi baru terbarukan. Seperti geotermal dan kerja sama bidang energi tenaga air. Termasuk beberapa kerja sama multilateral.

"Geotermal tetap menjadi prioritas kerja sama ini, dan sepakat untuk meningkatkan kerja sama di bidang energi tenaga air," tandas mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Menteri Perdagangan Thomas Lembong menargetkan peningkatan transaksi perdagangan sebesar US$2 miliar dengan Selandia Baru pada 2024 mendatang.

"Pada 2024, kami ingin meningkatkan hubungan perdagangan dari kira-kira US$1 miliar menjadi US$3 miliar," ujar Lembong.

Lembong mengatakan beberapa produk yang nantinya akan didorong untuk dapat meningkatkan nilai perdagangan antara kedua negara antara lain produk agrikultur dan bahan baku pakan ternak.

"Kita juga mau melihat untuk sektor yang ada di abad ke-21, seperti pendidikan, e-commerce dan tentunya pariwisata serta jasa," ungkap dia.

Adapun total nilai perdagangan Indonesia dengan Selandia baru pada 2014 tercatat sebesar US$1,31 miliar, di mana Indonesia mengalami defisit senilai US$354,61 juta dengan total ekspor sebesar US$481,4 juta dan impor US$836,03 juta.

Sementara pada 2015, total perdagangan kedua negara mengalami penurunan menjadi US$1,07 miliar, dan defisit mencapai US$200,8 juta dengan kinerja ekspor yang juga menurun menjadi US$436,25 juta dan impor sebesar US$637,0 juta. (MTVN/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya