Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJUMLAH pasar tradisional di DKI Jakarta direvitalisasi.
Dengan revitalisasi, diharapkan bukan hanya kondisi fisik pasar yang lebih bersih dan nyaman, melainkan juga perputaran ekonomi di sana lebih bergairah.
Sayangnya, tidak semua tujuan itu tercapai.
Tengok saja Pasar Cikini, Jakarta Pusat.
Kendati sejak 2013 kondisi fisiknya jauh lebih bagus bila dibandingkan dengan sebelum direvitalisasi, pengunjungnya justru malah berkurang.
Merosotnya minat konsumen untuk datang ke pasar tradisional yang kini menyatu dalam gedung modern Cikini Gold Center tersebut bahkan membuat sekitar 40% pedagang tidak mampu lagi melanjutkan usaha dan memilih menutup tempat berdagang mereka.
Berdasarkan pantauan, pasar yang menempati lantai basement Gedung Gold Center itu sangat rapi dan bersih.
Berbagai jenis kebutuhan dijual di sana, mulai sayuran, daging, aneka bahan pangan lainnya, hingga keranjang parsel.
Semua tersusun rapi.
Pengunjung juga tidak perlu lagi berbecek-becek untuk menyusuri setiap kios atau berpindah dari satu los ke los lainnya karena lantai pasar terbuat dari keramik.
Namun, hal itu berbanding terbalik dengan kehadiran pengunjung sebab pasar tersebut kini lebih sepi bila dibandingkan dengan sebelum direvitalisasi.
Seperti itulah yang dikatakan Lie Tjan Tjie, 67, salah seorang pedagang kebutuhan pokok yang berjualan di pasar itu sejak 1972.
Menurutnya, fasilitas pasar pascarevitalisasi memang lebih nyaman bila dibandingkan dengan sebelumnya yang hanya berupa pasar tradisional seperti kebanyakan yang terdiri dari satu lantai.
Pasar lebih tertata rapi dan besih karena tidak ada lagi sampah berserakan.
Sejumlah petugas kebersihan selalu rutin membersihkan pasar.
Saat hujan mengguyur pun, ujarnya, ia dan pedagang lainnya kini tidak khawatir atap akan bocor.
"Pokoknya, kalau kondisi bangunan dan fasilitasnya, tentu jauh lebih enak sekarang," katanya, akhir pekan lalu.
Namun, ia mengeluhkan kondisi pasar yang lebih bersih dan nyaman itu ternyata tidak dibarengi bertambahnya kehadiran konsumen.
Sejak revitalisasi pasar, kata Tjan, justru jumlah pengunjung pasar yang berada di seberang Stasiun Cikini tersebut terus berkurang.
Ia menduga salah satu penyebabnya ialah lokasi pasar tradisional tempatnya berjualan itu berada di lantai basement sehingga tidak tampak dari luar.
"Orang-orang tahunya di sini Cikini Gold Center, dan enggak tahu bahwa di bawahnya sini ada pasar tradisional," katanya.
Selain soal lokasi, tambahnya, sebagian besar pelanggannya yang tinggal di sekitar Cikini dan Menteng kini berusia senja sehingga tidak lagi berbelanja di pasar.
"Sementara itu, konsumen muda pasti lebih memilih belanja di pasar swalayan. Di sebelah ada tuh. Jadi, kami kalah bersaing," ujar laki-laki itu.
Keluhan senada diungkapkan Handoko, 76, pedagang lainnya di pasar tersebut.
Dahulu, kenangnya, Pasar Cikini kerap dikunjungi istri pejabat negara.
Namun, kini tinggal sejarah lantaran masa itu telah lewat.
Disegel
Kepala Pasar Cikini Imam Taufik mengakui sepinya pasar tersebut antara lain disebabkan kurangnya sosialisasi serta minimnya papan informasi yang menunjukkan keberadaan pasar di lantai basement.
Dari total 245 tempat usaha yang tersedia, kini hanya 141 yang masih aktif digunakan untuk berjualan.
Tempat usaha itu terdiri dari 82 kios dan 59 lapak yang berada di los.
Kios yang tidak lagi aktif itu kini disegel pihak PD Pasar Jaya lantaran penggunanya menunggak biaya administrasi.
"Semua yang disegel itu telah disegel permanen. Artinya mereka (pedagang) tidak memiliki hak lagi di sini," ujarnya.
Anda, 62, salah satu pedagang di los sayur yang masih mencicil hak guna pakai tempat usaha di sana, kini tengah bingung antara berhenti berjualan dan bertahan di tengan kelesuan.
"Mau lanjut berjualan, sepi, sementara kalau berhenti, sayang karena cicilannya tinggal setahun lagi," keluhnya.
(J-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved