Tarif Melonjak Pedagang Hengkang

Nic/J-2
18/7/2016 05:31
Tarif Melonjak Pedagang Hengkang
(ANTARA/Teresia May)

NASIB Pasar Santa di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang sempat populer di kalangan kaum muda pada 2014 karena hadirnya usaha kreatif di pasar tradisional itu, belakangan mulai sepi pengunjung.

Diduga, hal itu terjadi akibat sempat dinaikkannya biaya sewa oleh pengelola gedung.

Dari 326 tempat usaha yang tersedia, kini hanya 123 yang masih aktif.

Sebagian pedagang yang merasa keberatan atas penaikan biaya sewa memilih hengkang dari pasar yang berdiri sejak 1971 tersebut.

Setelah pasar direvitalisasi, lantai basement tetap digunakan sejumlah pedagang sayur-mayur, daging, buah-buahan, hingga sembilan kebutuhan pokok (sembako).

Lantai dasar diperuntukan pedagang dan penjahit pakaian.

Suasana berbeda terlihat di lantai 1 karena seluruh kios didesain dengan gaya yang berbeda-beda.

Di lantai itulah para pelaku usaha kreatif berpusat.

Mulai makanan populer, toko piringan hitam, kedai kopi, hingga toko mainan ada di sana.

Merekalah yang sempat menjadi magnet kaum muda Ibu Kota untuk berkunjung.

Sayang, kondisi itu tidak bertahan lama.

Hanya sebagian pelaku usaha kreatif masih bertahan meski pengunjung terus berkurang.

"Dulu, saking ramainya, lorong di depan kios macet dan pengunjung enggak bisa jalan. Sekarang ya sepi begini. Omzet pedagang pun turun sampai 40%," kata salah seorang pedagang pakaian dan perhiasan vintage di Pasar Santa, Babby Febrilia.

Ia mengakui, pada 2014 omzetnya mencapai Rp15 juta per minggu.

Namun, belakangan omzet terus merosot dan rata-rata tinggal Rp9 juta.

Menurutnya, salah satu penyebab sepinya pengunjung ialah penaikan tarif sewa oleh pengelola gedung.

Semula, kios berukuran 4 meter persegi hanya dikenai sewa Rp3 juta/tahun.

Namun, setelah melihat kepopuleran Pasar Santa yang meningkat drastis, pengelola menaikkan sewa tahun berikutnya empat kali lipat menjadi Rp12 juta.

Para pedagang baru yang terdiri dari pelaku usaha kreatif pun menolak.

"Sebagian akhirnya memilih pindah karena pedagang membuka usaha di sini karena harga sewanya murah dan lokasinya strategis," kata Babby.

Kepala Pasar Santa Ahmad Subhan mengakui keputusan pengelola sebelumnya menaikkan tarif sewa secara tiba-tiba menjadi salah satu penyebab Pasar Santa tidak lagi sehidup dulu.

Oleh sebab itu, kini pengelola menetapkan biaya sewa baru.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya