Berjibaku Bayar Cicilan Rumah yang kian Melilit

Irene Harty/E-5
24/7/2015 00:00
Berjibaku Bayar Cicilan Rumah yang kian Melilit
(ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)
"BANYAK orang yang belum punya rumah." Begitu kata Presiden Joko Widodo saat pertama kali menjabat sebagai orang nomor satu negeri ini.

Segera, Jokowi, panggilan akrabnya, mencanangkan program satu juta rumah dengan skema subsidi bunga.

Masyarakat yang saat ini akan menarik kredit rumah melalui fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) hanya menanggung bunga sebesar 5%.

Sayangnya, sudah cukup banyak masyarakat yang telanjur mengambil kredit pemilikan rumah sebelum hadirnya program tersebut.

Mereka kini harus berjibaku menanggung kenaikan cicilan karena peningkatan suku bunga.

Salah satunya Aga, 31, karyawan swasta, yang memutuskan untuk mengambil KPR sekitar 2010 silam.

Dia mengaku rumah yang dicicilnya melalui bank BUMN itu terpaksa dilunasi pada tahun kelima.

Keputusan itu diambilnya karena cicilan yang harus dibayarnya makin lama makin besar dari Rp1,5 juta per bulan menjadi Rp1,9 juta per bulan di tahun kedua.

Ia hanya menerima penjelasan dari bank bahwa bunga kredit tidak lagi flat.

"Padahal saya mengambil KPR dengan bunga flat selama 15 tahun. Kenaikan gaji, ya akhirnya dimakan oleh cicilan," pungkas dia.

Permasalahan rupanya tidak berhenti di situ.

Tiba-tiba transaksi pembayaran cicilan rumah yang berlokasi di Surabaya ditolak.

Penolakan itu berlangsung selama dua bulan.

Padahal, dia mengaku tidak mendapat pemberitahuan tentang kenaikan bunga lagi.

"Kemarin resign, akhirnya semua kekurangan tak tutup biar beban bulanan berkurang," ungkap dia.

Namun, Aga berharap suku bunga pinjaman terutama KPR seharusnya bisa lebih rendah.

Sementara itu dengan profesi yang sama, Didit, 25, mengaku sudah mengambil KPR sejak 2010 dengan bunga flat 8,15%-8,5% untuk kredit 15 tahun.

Cicilan untuk rumah 60 meter itu hanya dibiayai Rp550 ribu per bulan.

Dia merasa beruntung bisa memiliki cicilan superringan dari bank BUMN yang fokus ke perumahan ketimbang teman-temannya yang mengambil cicilan saat ini.

"Kalau dibandingin dengan teman-teman yang ambil KPR dengan cicilannya sekarang, maybe punyaku paling ringan kali ya karena ada teman yang ambil KPR ringan di dua sampai tiga tahun pertama, tapi di tahun berikutnya naik sekian persen," jelasnya.

Apalagi dari pengamatannya bank-bank saat ini tidak ada yang memberi bunga flat.

Jika ada pun, bunga flat dengan model berjenjang atau tahun pertama hingga ketiga cicilan tetap, tapi tahun keempat dan seterusnya berbeda.

Keberuntungan juga jadi milik Ridswan, 28, yang mengikuti program subsidi rumah pemerintah sejak setahun empat bulan lalu dengan bunga flat 7,29% per tahun.

Namun, keberuntungan dia tidak sama dengan konsumen periode selanjutnya yang mendapat bunga 8,25%.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya