Ekspor Juni Tertinggi Setahun

Jessica Sihite
16/7/2016 03:30
Ekspor Juni Tertinggi Setahun
(Sumber BPS/Foto Antara)

NILAI ekspor Indonesia pada Juni 2016 mencatat kenaikan di atas 12% dari bulan sebelumnya. Dengan perolehan US$12,92 miliar, nilai ekspor itu menjadi nilai bulanan tertinggi sejak Juli 2015. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan selama bulan lalu, beberapa komoditas yang diekspor mengalami kenaikan dalam hal volume maupun harga. Salah satunya, batu bara yang volumenya naik 4,13%. "Kenaikan ekspor Juni ini karena ada kenaikan volume dan harga dunia. Dari 22 komoditas yang kami perhatikan, 19 di antaranya harganya semakin baik," ungkap Surya-min di kantornya, Jakarta, Jumat (15/7).

Berdasarkan sektornya, ia menyebut, nilai ekspor produk industri manufaktur pada Juni 2016 naik 9,03% dari Mei 2016. Di saat sama, ekspor produk pertanian naik 21,7%. "Semoga ini terus naik karena Juni, saat masa puasa, biasanya impor lebih besar, tapi ini ekspor lebih besar," ucapnya. Meski begitu, nilai ekspor Juni 2016 masih lebih rendah ketimbang Juni 2015. Begitu pula nilai ekspor kumulatif (Januari-Juni) serta volumenya. Sementara itu, nilai impor Juni 2016 tercatat US$12,02 miliar atau naik 7,86% dari Mei. Berdasarkan golongan barang, seluruhnya mengalami kenaikan, terutama impor barang modal dan barang konsumsi.

"Semoga ini menunjukkan pembangunan infrastruktur makin digenjot. Barang konsumsi yang banyak diimpor juga tidak hanya konsumsi makanan dan pakaian. Barang konsumsi perang, seperti peluru, amunisi, dan tank naik," imbuh Suryamin. Seperti halnya ekspor, nilai impor Juni 2016 secara tahunan pun secara kumulatif, lebih rendah ketimbang periode 2015. Itu amat dipengaruhi impor migas yang ciut lebih dari 34%, Walakin, volume impor secara keseluruhan justru meningkat.

Surplus bertahan
Dengan surplus US$900 juta pada Juni, perdagangan luar negeri Indonesia mencetak surplus kumulatif US$3,59 miliar selama semester I 2016. Jumlah itu turun 19,6% dari periode serupa di 2015, yaitu US$4,47 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo menilai turunnya surplus disebabkan harga komoditas masih rendah walau ada sebagian memperlihatkan tanda-tanda kenaikan. Berbagai jenis barang impor juga diduga lebih murah sehingga volumenya naik. "Tahun ini lebih karena harga lebih murah dari 2015. Yang paling turun dari tahun lalu itu batu bara dan minyak sawit," ucapnya.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Perdagangan Thomas Lembong mengatakan dampak risiko global terhadap perdagangan Indonesia masih perlu diwaspadai. Prakiraan dia, keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) akan memengaruhi kelancaran arus perdagangan global di masa mendatang. "Memang perdagangan internasional masih turun, tapi kami targetkan kontraksinya tidak sebesar tahun lalu ketika ekspor-impor turun 14%-17%. Kami harapkan tahun ini single digit," ujarnya. Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menilai surplus dagang yang masih tercipta akan menjaga defisit transaksi berjalan yang per Juni diprediksi 2,2%-2,4% dari produk domestik bruto (PDB). Level itu ia anggap cukup nyaman bagi BI. (Jay/Arv/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya