Doyan Jalan-Jalan,Asia bakal Geser Amerika Utara

(Arv/E-3)
16/7/2016 03:00
Doyan Jalan-Jalan,Asia bakal Geser Amerika Utara
(MI/Reza)

SIAPA yang tidak suka traveling? Aktivitas menyenangkan untuk refreshing dari kepenatan aktivitas sehari-hari. Di era teknologi saat ini, melakukan perjalanan jauh pun terasa lebih mudah. Anda tinggal membuka situs penjual tiket daring mulai dari pesawat atau moda transportasi lainnya, serta hotel, lalu pesan tiket sesuai kebutuhan, dan voila! Anda pun siap berangkat. Hal tersebut masuk kategori wisata daring atau bahasa bekennya digital traveling. Dalam wisata daring ini, Amerika Utara menduduki peringkat nomor satu sebagai negara dengan pasar wisata daring tertinggi.

Namun, posisi itu terancam oleh Asia pada 2017 mendatang. Mengapa bisa begitu? Sebab, konsumer di Asia Pasifik diproyeksikan bersedia menghabiskan US$216 miliar (sekitar Rp2.916 triliun) di tahun depan hanya untuk digital travel, lebih tinggi daripada Amerika Utara yang hanya akan menghabiskan US$200 miliar (Rp2.700 triliun). Proyeksi tersebut merepresentasikan pertumbuhan 23% untuk Asia dan 5% untuk Amerika Utara. Fenomena ini tidak diacuhkan perusahaan-perusahaan industri wisata.

Sebut saja Airbnb yang telah menerima dana untuk melakukan ekspansi di India baru-baru ini. Sementara Ctrip, sebuah perusahaan jasa perjalanan, membeli saham di agen perjalanan daring di India bernama Make My Trip. "Ini peluang terbesar bagi perusahaan dan startups agen perjalanan online dan seluler, karena keduanya akan memperluas pangsa mereka dalam pemesanan online," ujar analis eMarketer Chris Bendtsen seperti dilansir CNBC, Rabu (13/7).

Kecenderungan terbesar yang mendorong pergeseran tersebut ialah konsumen Tiongkok, yang tercatat menghabiskan lebih banyak waktu membuka laman-laman wisata digital. Hal itu seiring dengan pertumbuhan penjualan ponsel di negera tersebut. Perlambatan ekonomi pun tidak jadi 'Tembok China' bagi Tiongkok. Menurut World Travel & Tourism Council, meski ekonomi melambat, turis Tiongkok mampu menghabiskan 53% uang lebih banyak dari tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya untuk jalan-jalan.

Bahkan, dari sebuah laporan terbaru oleh Marriott International and Hurun Reports, warga high-end milenium Tiongkok mampu menghabiskan sebanyak US$65 ribu (Rp887,5 miliar) per tahun untuk liburan mewah. Bagaimana tidak mewah jika mau merogoh kocek untuk menginap di hotel mewah dengan harga US$500 (Rp6,75 juta) per malam. Mereka melakukan liburan setiap 3-4 bulan sekali, dengan destinasi tujuan utama negara Eropa, dan menggunakan pesawat kelas utama seperti Lufthansa sebagai moda transportasi. Cukup mencengangkan, tapi itulah yang dipaparkan dalam laporan itu.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya