GUNUNG Raung yang berada di wilayah paling timur Provinsi Jawa Timur, kemarin, kembali erupsi. Sebaran abu yang mengarah ke selatan-tenggara telah menyebabkan tiga bandara ditutup kembali. Ketiga bandara yang ditutup ialah Bandara Blimbingsari di Kabupaten Banyuwangi, Bandara Notohadinegoro di Jember, dan Bandara Internasional Ngurah Rai di Bali.
Gangguan sebaran abu yang terjadi sejak 10 Juli 2015 lalu itu mengakibatkan kerugian yang cukup besar bagi maskapai penerbangan dan pengelola bandara. Apalagi pada H-1 Lebaran, sebaran abu vulkanis Gunung Raung juga sempat menghentikan aktivitas penerbangan di Bandara Juanda di Sidoarjo dan Bandara Abdurrahman Saleh di Malang.
VP Corporate Communications PT Citilink Indonesia Benny Butarbutar mengakui kerugian yang dialami akibat penutupan kembali bandara karena erupsi Gunung Raung semakin besar. Pasalnya, saat penutupan bandara 10 Juli lalu, Citilink terpaksa membatalkan 27 penerbangan dan harus menanggung kerugian sekitar Rp5 miliar.
"Iya, kisaran kerugiannya sekarang lebih dari Rp5 miliar," ujarnya melalui pesan singkat, kemarin. Kerugian yang cukup besar juga dialami maskapai lainnya, terutama Garuda Indonesia yang memiliki rute penerbangan paling banyak. Untuk di jalur domestik, Garuda Indonesia memiliki 70 rute penerbangan dari dan ke Bandara Ngurah Rai, Denpasar, sedangkan jalur internasional terdapat 18 rute penerbangan.
Meski mengakui ada kerugian, Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo menolak menanggapi terkait hilangnya potensi pendapatan yang dialami maskapai flag carrier itu. "Mohon maaf saya tidak perlu mengungkapkan kerugian. Bukan positive news buat Garuda," jawabnya singkat.
Corporate Communication Sriwijaya Air Agus Sujono juga enggan mengungkap kerugian yang harus ditanggung maskapai berlogo RU-YI itu. "Apa yang terjadi sekarang ini kan bagian dari gejala alam, force majeure. Kami tidak mau menyebut sebagai kerugian," ujarnya melalui sambungan telepon.
Meski penutupan bandara karena faktor alam, baik Sriwijaya maupun Citilink, tetap memprioritaskan penumpang, termasuk menyampaikan informasi yang jelas agar tidak salah persepsi. "Kita tetap berikan penanganan kepada penumpang berupa reschedule, reroute, dan refund. Penumpang juga memahami karena ini bencana alam," ujar Benny.
Naik 9% Kerugian tidak hanya dialami maskapai, PT Angkasa Pura I sebagai pengelola bandara masih menghitung kerugian yang dialami sejak abu vulkanis Gunung Raung mengganggu penerbangan. "Pengaruh pada pendapatan pasti ada. Hanya secara finansial dan jumlah belum bisa dipastikan karena erupsi masih berlanjut, belum ada tanda-tanda berhenti," kata Corporate Communication Dept Head PT Angkasa Pura I Ida Bagus Juli Adnyana, kemarin.
Adanya buka-tutup bandara tersebut, Direktur Angkutan Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Kemenhub Mohammad Alwi mengungkapkan jumlah penumpang moda transportasi udara hanya naik 9% dari tahun lalu. "Saya yakin kenaikannya bisa sampai 12% kalau tidak ada buka-tutup bandara karena abu," ujarnya di Stasiun Tawang, Semarang, kemarin.
GM PT Angkasa Pura Ngurah Rai Trikora Harjo mengatakan, untuk hari ini, bandara pun tidak serta merta langsung dibuka. Pihaknya akan menunggu perkembangan selanjutnya.