Setelah Kartu,Muncul Sidik Jari

MI/Jessica Sihite
21/7/2015 00:00
Setelah Kartu,Muncul Sidik Jari
(ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)
KEBIJAKAN subsidi elpiji langsung kepada masyarakat miskin tampaknya belum akan mencapai ketetapan. Pemerintah masih menimbang-nimbang berbagai alternatif. Jika awalnya diwacanakan pembelian elpiji bersubsidi nantinya hanya bisa dilakukan pemegang kartu keluarga miskin, kini pemerintah mempertimbangkan untuk memakai sidik jari.

Masyarakat baru bisa membeli elpiji 3 kg dengan harga bersubsidi jika sidik jarinya sesuai dengan data keluarga miskin milik pemerintah. Dirjen Minyak dan Gas Bumi IGN Wiratmaja Puja menyatakan rencana itu akan diaplikasikan dalam uji coba di Batam pada Agustus atau September.

Pemerintah akan menyiapkan 200 ribu tabung elpiji untuk 200 ribu kepala keluarga yang masuk data keluarga miskin. Wiratmaja menjelaskan penggunaan sidik jari jauh lebih murah ketimbang kartu. Pasalnya, untuk membuat satu kartu saja, kata dia, butuh dana sekitar Rp20 ribu. Di samping itu, tingkat keamanan sistem sidik jari lebih baik.

"Ini (sidik jari) enggak bisa dipalsukan. Kalau kartu kan bisa dipalsukan, bisa hilang, bisa dicuri," ujar Wiratmaja di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pekan lalu. Wiratmaja menuturkan setiap agen dan pangkalan elpiji nanti-nya akan diminta menyediakan alat pendeteksi sidik jari.

Kemudian, data dan sistem akan disediakan pemerintah. Pedagang elpiji eceran, kata Wiratmaja, tidak akan terpengaruh oleh program tersebut. Jika si penjual tidak memiliki alat pendeteksi sidik jari, dia bisa menjual elpiji 3 kg ke masyarakat umum dengan harga nonsubsidi.

Masyarakat yang menerima program itu juga akan ditentukan batas pembeliannya. Tiap bulan, setiap keluarga hanya akan dijatahi tiga tabung elipiji 3 kg bersubsidi. Bila pembelian melebihi jatah, elpiji akan diberikan dengan harga nonsubsidi.

Pendataan

Selain subsidi langsung elpiji, pemerintah merencanakan subsidi langsung listrik. Ke depan, hanya keluarga miskin yang boleh menikmati subsidi listrik di golongan konsumsi listrik 450 kVA dan 900 kVA. Namun, penerapan subsidi listrik seperti itu masih memerlukan pemutakhiran data sasaran.

Menteri ESDM Sudirman Said menyatakan, meski data sasaran subsidi elpiji sudah ada, pihaknya masih akan menyinergikannya dengan data subsidi listrik. Secara keseluruhan, pendataan sasaran subsidi listrik dan elpiji tersebut memerlukan waktu yang tidak singkat. "Semua akan satu sistem. Memang perlu waktu untuk mendata semua," ucapnya.

PLN telah memulai penyisiran terhadap pemakai listrik di golongan 450 VA dan 900 VA. Penyisiran dilakukan karena adanya ketidaksesuaian jumlah keluarga miskin dengan jumlah penerima subsidi listrik. Jumlah keluarga miskin yang dijadikan pedoman oleh PLN sebanyak 15,5 juta rumah tangga.

Sementara itu, berdasarkan catatan PLN, rumah tangga yang memakai listrik berdaya 450 VA dan 900 VA mencapai 44 juta rumah tangga. Kedua golongan konsumsi listrik mendapatkan subsidi dari pemerintah. Dengan demikian, banyak sambungan listrik bersubsidi yang salah sasaran.

Proses penyisiran diperkirakan memakan waktu dua tahun. Sudirman mengapreasiasi penyisiran keluarga miskin yang akan dilakukan PLN dari rumah ke rumah. Langkah PLN yang akan menyisir disertai penggantian meteran agar masyarakat lebih taat aturan. "Secara realistis, penyisiran tidak akan bisa selesai dalam setahun. Namun, yang penting dimulai dari sekarang," tutur Sudirman.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya