Presiden Ingin Ruang Udara Selatan Jawa lebih Dioptimalkan

Astri Novaria
13/7/2016 21:55
Presiden Ingin Ruang Udara Selatan Jawa lebih Dioptimalkan
(ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) menginginkan ruang udara di selatan Jawa dioptimalkan untuk penerbangan komersial. Hal ini disebabkan ruang di sisi utara sudah terlalu padat dan bisa berpengaruh terhadap keselamatan penerbangan.

"Tadi arahan Presiden, agar dilakukan pemanfaatan ruang udara di selatan Jawa," ujar Menteri Perhubungan Ignatius Jonan seusai rapat terbatas mengenai pemanfaatan ruang udara di selatan Pulau Jawa di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (13/7).

Dilanjutkan Jonan, selama ini ruang udara di selatan Jawa hanya diperuntukkan penerbangan nonsipil atau militer. Ke depan, diharapkan ruang udara di selatan Jawa ini akan diperuntukkan penerbangan sipil dan penerbangan nonsipil.

"Dikatakan terlarang itu bukannya tidak boleh, tapi biasanya digunakan untuk militer. Sekarang akan digunakan bersama (dengan penerbangan sipil). Jadi bagi waktunya dengan TNI AU atau dengan penerbangan nonsipil," katanya.

Jonan menyebutkan ada kemungkinan dibangun bandara baru di wilayah selatan Jawa Timur, tetapi belum dipastikan lokasinya. Menurutnya, pembangunan bandara bukan hanya soal lokasi ketersediaan lahan melainkan tidak boleh adanya konflik ruang udara.

"Bandara yang sudah ada itu kan tidak bisa ditutup ya. Di selatan Jawa Timur yang di daerah itu tentunya, tidak boleh konflik dengan Abdurrahman Saleh di Malang dan tidak boleh konflik dengan Pangkalan Udara Iswahyudi di Madiun. Nanti kita lihat lokasinya," pungkasnya.

Sekretaris Kabinet Pranomo Anung menambahkan, Presiden Jokowi telah menyetujui usulan Kemenhub untuk memanfaatkan ruang udara di selatan pulau jawa tersebut. Pemanfaatannya ini diharapkan bisa terealisasi pada 17 Agustus 2016 mendatang.

"Pada prinsipnya, Presiden Jokowi menyetujui apa yang diusulkan Menteri Perhubungan. Tentunya, atas persetujuan Panglima TNI dan Kepala Staf AU untuk memanfaatkan ruang selatan Pulau Jawa yang selama ini terlarang," ujar Pramono.

Adapun, ruang udara di utara Jawa menjadi penerbangan terpadat kelima di dunia. Perlu dicatat, di jalur utara Pulau Jawa, rute Jakarta-Bali memiliki 170 lalu lintas penerbangan per hari, sedangkan rute Jakarta-Surabaya berlangsung 150 lalu lintas penerbangan per hari.

"Sehingga, penerbangan ke Bali misalnya, biayanya turun 10% dan bahan bakar turun 15%. Menurut Pak Menhub di utara itu nomor lima terpadat di dunia, jadi selatan harus dimanfaatkan. Presiden mengatakan kepada kami untuk menyiapkan Perpres (Peraturan Presiden)-nya agar jalur selatan segera difungsikan," pungkasnya. (Nov/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya