YLKI Kritik Wacana Impor Jeroan Sapi

Gabriela Jessica Restiana Sihite
13/7/2016 11:02
YLKI Kritik Wacana Impor Jeroan Sapi
(ANTARA)

YAYASAN Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengkritik wacana pemerintah yang ingin membuka keran impor daging sapi jenis secondary cut dan jeroan. Wacana pemerintah itu dinilai merugikan konsumen.

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menyatakan impor jeroan sapi merupakan kebijakan yang merendahkan martabat masyarakat. Pasalnya, menurut dia, jeroan di negara-negara Eropa justru digunakan sebagai pakan anjing dan tidak layak dikonsumsi manusia.

"Kandungan residu hormon pada jeroan sapi di negara yang membolehkan budidaya sapi dengan hormon sangat tinggi, sehingga tidak layak untuk konsumsi, karena membahayakan kesehatan manusia," ucap Tulus melalui keterangan resmi, Rabu (13/7).

Selain itu, impor jeroan sapi berpotensi menimbulkan masalah pada pertumbuhan tubuh masyarakat. Hal itu juga karena kandungan hormonnya yang dinilai sangat tinggi.

Pemerintah pun, lanjutnya, diminta untuk tidak melakukan impor jeroan sapi. Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi jeroan sapi impor.

"Pemerintah jangan mengalihkan ketidakmampuan menurunkan harga daging sapi dengan cara impor jeroan. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi jeroan sapi yang berasal dari impor karena membahayakan kesehatan manusia," tutur Tulus.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian menyatakan akan memperlebar impor daging sapi kepada swasta untuk jenis secondary cut dan jeroan asal bebas penyakit mulut dan kuku (PMK). Kementan pun akan merevisi aturan yang melarang hal itu selama ini, yakni Peraturan Menteri Pertanian No 58/2005.

Dalam beleid tersebut, importasi daging secondary cut hanya bisa dilakukan BUMN dalam kondisi tertentu. Impor jeroan sama sekali ditutup.

“Regulasi kita ubah. Jadi secondary cut bisa diimpor siapa saja, begitu juga jeroan,” kata Amran.

Namun, impor tersebut dilakukan khusus untuk memenuhi kebutuhan di Jabodetabek karena 80%-90% impor daging diserap di wilayah tersebut. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya