Islam Sebagai Perekat Hubungan Indonesia dan Rusia

10/7/2016 23:53
Islam Sebagai Perekat Hubungan Indonesia dan Rusia
(Dubes RI untuk Rusia Wahid Supriyadi (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Tatarstan Rustam Minikhanov)

PRESIDEN Republik Tatarstan Rustam Minnikhanov memandang Islam dapat menjadi perekat hubungan dan kerja sama Indonesia dan Rusia.

“Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, begitu pula Tatarstan merupakan pusat Islam di Rusia. Kesamaan sejarah dan tradisi ini dapat membantu kita untuk lebih memahami satu sama lain, termasuk dalam rangka bisnis,” ujar Rustam Minikhanov saat menerima kunjungan Dubes RI untuk Rusia merangkap Belarus M. Wahid Supriyadi, Kamis (7/7) lalu.

Minikhanov berjanji mengirimkan delegasi dagang dan kesenian pada acara Festival Indonesia 2016, sebuah pameran dagang, pariwisata, investasi dan seni budaya yang akan digelar KBRI Moskow di Hermitage garden, Moskow, 20-21 Agustus 2016 mendatang.

"Saya menyimak serius dan menilai paparan Dubes RI sangat logis dan menarik. Karenanya saya instruksikan instasi terkait Republik Tatarstan menindaklanjutinya,” ujarnya.

Dubes Wahid juga menawarkan kerja sama Sister Province antara Republik Tatarstan dengan Daerah Istimewa Aceh.

"Sebagaimana Republik Tatarstan yang menjadi tempat masuknya Islam pertama kali ke tanah Rusia pada abad X, Provinsi Aceh juga merupakan kota masuknya Islam pertama kali di Indonesia pada abad XIII,” ujar Dubes RI yang baru 3 bulan bertugas di Rusia.

Dalam pertemuan sekitar 1 jam di kantor Presiden Tatarstan tersebut, Minikhanov juga menyinggung berbagai bidang kerja sama ekonomi yang dapat dikembangkan, misalnya di bidang perminyakan, petrokimia, rekayasa, manufaktur komponen otomotif dan helikopter, kedokteran, pertanian, teknologi informasi, pendidikan dan penelitian, dan sebagainya. “Sayangnya berbagai potensi kerja sama tersebut belum sepenuhnya dikembangkan kedua negara,” ujar Minikhanov.

Dubes Wahid mengakui memang potensi yang ada belum sepenuhnya dikembangkan dan menyatakan bahwa terkait pariwisata misalnya, perlu kiranya menyederhanakan prosedur visa masuk ke Rusia agar dapat meningkatkan angka kunjungan warga Indonesia ke Rusia.

“Meski Amerika atau Eropa Barat masih menjadi destinasi wisata utama, di kalangan kelas menengah atas Indonesia ada trend mengunjungi destinasi wisata baru yang unik seperti Rusia,” ujar Dubes Wahid. (RO/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya