BAGI mereka yang berusia 20-an, mendapatkan pekerjaan dengan gaji memadai mungkin terdengar mustahil.
Namun, penelitian terkini membuktikan sebaliknya.
Kini semakin banyak perekrut yang percaya bahwa usia 20-an ialah masa prima sehingga banyak diburu.
Sayangnya, suplai tidak berimbang.
Dalam bidang keuangan, misalnya, situs rekrutmen eFinancialCareers menyatakan jumlah kandidat berusia 24-28 tahun sangat sedikit.
"Secara umum, jumlah pendaftar dengan pengalaman tiga hingga tujuh tahun sangat sedikit. Dengan asumsi orang memulai karier finansial pada usia 21 tahun, ada kekurangan suplai tenaga kerja berusia 24-28 tahun," demikian laporan terbaru situs tersebut.
Direktur Regional Font--agen rekrutmen yang beroperasi di Singapura, Malaysia, Hong Kong, dan Selandia Baru--Priya Bala menuturkan, permintaan pekerja muda dengan usia 20-an makin tinggi di berbagai industri, khususnya di sektor-sektor kreatif seperti pemasaran dan komunikasi.
"Setiap industri memerlukan orang-orang cerdas yang lahir di era digital. Anda harus membawa 'darah segar', tidak dapat terus bergantung pada mereka yang bertambah tua," ujarnya kepada CNBC.
Direktur utama situs Monster.com di Asia, Sanjay Modi, menyatakan permintaan pekerja generasi milenial atau generasi Y--orang-orang yang lahir pada 1980-2000--meningkat karena perusahaan dapat mempromosikan mereka pada posisi lebih tinggi, tapi dengan gaji lebih rendah ketimbang pekerja yang sudah berpengalaman.
Bagaimanapun, ada tantangan tersendiri ketika mempekerjakan generasi Y yang biasanya fresh graduated itu.
"Ada ketidakcocokan antara keterampilan yang diajarkan institusi pendidikan dan kebutuhan perusahaan. Akibatnya, kadang perusahaan harus menghabiskan banyak waktu dan biaya untuk mengajari dan mengembangkan skill mereka," ujar Modi.
Di sisi lain, mereka cenderung lebih berorientasi pada passion sehingga tidak takut meninggalkan pekerjaan untuk mengeksplorasi hal-hal baru.
"Ketika klien kami merekrut seseorang yang baru pertama kali atau dua kali bekerja, klien tidak terlalu mengharapkan pekerja tersebut akan bertahan lama," kata Bala.
Faktor lain sedikitnya generasi Y yang melamar kerja yaitu meningkatnya keinginan berwirausaha.
Menurut BNP Paribas' 2015 Global Enterpreunerialism Report, 43% dari 2.500 pebisnis berusia di bawah 39 tahun.
Laporan itu menyatakan, pada generasi sebelumnya, pebisnis sukses rata-rata memulai usaha pada usia 39 tahun.
Sekarang rata-rata pebisnis memulai usaha sebelum berusia 32 tahun, dan kebanyakan mendeklarasikan karier bisnis di usia 29 tahun.