Gambar Apik di Papan Luncur

(Fik)
10/7/2016 01:50
Gambar Apik di Papan Luncur
(MI/GALIH PRADIPTA)

MASIH di wilayah Kota Bandung, bertempat di Lucky Square, kawasan Antapani, ada sebuah skate park di dalam ruangan. Lima tahun lalu arena ini dibuat dua sahabat, Lega Manggala Putra (Ega), 30, dan Rizky Berry, 30, untuk mendukung para pehobi papan seluncur beroda ini. Bandung memang dikenal sebagai salah satu kota yang banyak melahirkan atlet oleh raga ekstrem. Untuk itu, Ega dan Berry juga ingin berkontribusi memfasilitasi olahraga yang sekaligus menjadi hobi mereka. Bersama lini usaha bernama Line, mereka juga menjual baju, sepatu, hingga skateboard hingga penyewaan arena bermainnya.

Namun, setahun belakangan, lini usaha Line dikembangkan dengan sebuah produk sablon skateboard. Ketertarikan menggambar di papan skate ini berawal saat mereka berdua kebingungan untuk mencetak gambar di papan skate masing-masing. Selama enam tahun mereka meriset bagaimana caranya agar papan tersebut bisa digambar dalam jumlah banyak. “Kalau painting tidak bisa memenuhi produksi dalam jumlah banyak. Kami cari cara dengan sablon. Berkali-kali kami gagal sampai menemukan bentuk film dan meja yang pas untuk disablon di atas papan skate,” jelas Ega saat ditemui Media Indonesia minggu lalu di tokonya.

Akhirnya terobosan sablon ini meng­inspirasi mereka untuk menjual papan dengan gambar-gambar yang menarik. Dalam sebulan mereka mampu menjual 10 papan dengan omzet sekitar Rp5 jutaan. Padahal produk yang dinamai Malta Skateboard ini belum resmi dirilis. “Rencananya bulan September mendatang. Nantinya ingin produksi gambar per seri per musim. Satu musik tiga sampai empat desain,” tambah Berry.

Butuh teknik khusus
Selain menjual desain nyeleneh yang mereka rancang sendiri, Malta Skateboard juga menerima gambar custom dari pembeli. Namun, papannya harus dibeli di sana. Mereka menjualnya dengan harga mulai Rp450 ribu per papan. Jika custom, akan dikenai biaya tambahan. Semakin banyak warna yang digunakan, akan semakin mahal.

Saat mengerjakan sablon ini, Ega mengatakan, ia butuh keterampilan khusus. Bahkan, orang yang sudah jago menyablon sekalipun tidak serta merta bisa menyablon di papan skate. Butuh adaptasi terlebih dahulu karena bidang papan skate yang tidak rata. “Waktu itu kami mengerjakan sablon sendiri karena belum ada yang bisa. Sekarang sudah dibantu dua karyawan. Lekukan dan cara menekan saat menya­blonnya harus benar-benar diperhatikan agar bentuk gambar tidak rusak,” pungkas Ega. (Fik)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya