PLN Sisir Satu per Satu Rumah Penikmat Subsidi Setrum
Kim/E-2
14/7/2015 00:00
(ANTARA/ADENG BUSTOMI)
MULAI awal tahun depan, PLN akan mendata setiap rumah untuk didata kesesuaian tegangan dengan tingkat ekonominya.
Penertiban penerima subsidi listrik itu diestimasi berlangsung sampai 2018. Langkah tersebut ditaksir bisa menghemat subsidi hingga Rp20 triliun.
"Satu per satu kita sisir rumah. Memang prosesnya panjang. Tapi kalau mau memperbaiki, tidak ada jalan (lain). Lamanya mungkin setahun-dua tahun," cetus Dirut PLN Sofyan Basir seusai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, kemarin.
Penyisiran dilakukan karena ada ketidaksesuaian jumlah keluarga miskin yang 15,5 juta dengan jumlah penerima subsidi PLN yang mencapai 44 juta rumah. Ketimpangan data itu terungkap dalam rapat kerja (raker) PLN dan Kementerian ESDM dengan Komisi VII DPR, belum lama ini.
Sofyan mengakui mungkin ada porsi kesalahan PLN di masa lalu yang memberi akses rumah tangga mampu kepada tegangan bersubsidi, yaitu 450 watt dan 900 watt.
"Dulu kebijakan (subsidi)-nya 450 dan 950 watt. Miskin enggak miskin enggak tahu," kata dia.
Di lapangan, PLN menemukan salah satu bentuk siasat mengeruk subsidi oleh rumah tangga mampu lewat modus pemasangan beberapa meteran listrik 450 watt atau 900 watt dalam satu rumah.
Penyalurannya dibagi untuk setiap peralatan rumah tangga atau per kamar.
Ia mendapati kasus itu, misalnya di daerah kontrakan menengah atas di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, serta sebuah rumah yang terpantau memiliki mobil Toyota Alphard di Jakarta.
Adapun penyesuaian sekaligus penertiban data penerima subsidi akan dimulai PLN pada awal 2016.
Yang tak sesuai dengan kondisi ekonominya, kata Sofyan, bakal dipaksa menaikkan tegangan ke yang nonsubsidi.