Operasi Pasar Sukses Tekan Laju Kenaikan Harga

Muhammad Fauzi
04/7/2016 12:19
Operasi Pasar Sukses Tekan Laju Kenaikan Harga
(MI/Permana)

UPAYA pemerintah menekan harga pangan di pasaran tampaknya belum juga berhasil. Kendati begitu, sejumlah langkah Operasi Pasar (OP) yang dilakukan Perum Bulog dan dibantu swasta setidaknya dapat menahan laju kenaikan harga pangan.

Untuk itu, OP dirasa masih perlu, apalagi saat mendekati hari Lebaran untuk memberikan pilihan alternatif kepada masyarakat.

Pengamat Pertanian Khudori mengatakan keterlambatan pemerintah mengantisipasi kenaikan harga pangan saat Ramadan dan Lebaran sudah tidak bisa dibantah lagi. Kendati begitu, upaya sejumlah BUMN pangan melakukan OP di sejumlah titik setidaknya dapat menahan laju kenaikan harga pangan di sejumlah daerah di Indonesia.

"OP memang dapat menahan laju kenaikan harga kebutuhan pokok. Paling tidak dapat meredam, meskipun harga tetap bertahan tinggi," ungkap Khudory, Minggu (3/7) malam.

Ia mengambil contoh, sebelum Ramadan pun harga daging sapi sudah tinggi yakni di kisaran Rp110.000 per kg. Nah, saat Ramadan, harga daging hanya bergerak tipis di kisaran Rp115.000-Rp120.000 per kg.

Bila tidak ada OP dan keterlibatan semua pihak, maka potensi kenaikan harga daging sapi bisa jauh lebih tinggi lagi.

Ia mengatakan agar dapat menekan harga lebih rendah, seharusnya pemerintah sudah mengeluarkan izin impor jauh-jauh hari sebelumnya.

Dengan demikian, pasokan pangan sudah masuk ke pasar, sehingga ketika permintaan meningkat, pasokan dapat mengimbangi sehingga tidak ada kelangkaan pasokan yang menyebabkan harga meningkat.

Namun, karena izin impor baru dikeluarkan saat sudah mendekati Ramadan, otomatis tidak bisa mendorong pasokan pangan langsung bertambah karena butuh waktu antara memesan dari negara lain dan mendatangkan ke Indonesia. Akibatnya, terjadilah kekhawatiran di pasar pasokan kurang sehingga harga pada melambung.

Ia mengambil contoh, ketika Bulog baru mendapatkan kuota izin impor daging sapi menjelang Ramadan sebanyak 10.000 ton. Realisasi impor daging ini baru 900 ton saat menjelang lebaran. Akibatnya, pemerintah gagal membanjiri pasar dengan pasokan pangan yang berlimpah.

Di kesempatan terpisah, Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengakui, pihaknya tidak dapat merealisasikan importasi daging sapi sebanyak 10.000 ton selama Ramadan. Sebab, pada waktu bersamaan, pemerintah juga membuka keran impor untuk swasta. Akibatnya di pasar eskspor terjadi rebutan daging.

Kendati begitu, Bulog tetap menjalankan komitmen menjual daging di pasaran di kisaran Rp80.000 per kg. Kehadiran Bulog menjadi pasar alternatif bagi konsumenuntuk mendapatkan harga pangan yang lebih terjangkau dan murah. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya