Abaikan E-mail Kantor, Liburan Jadi Tenang

Jes/E-3
04/7/2016 05:31
Abaikan E-mail Kantor, Liburan Jadi Tenang
(MI/Caksono)

LIBUR Lebaran sudah tiba untuk mayoritas pekerja di perkantoran. Mayoritas pekerja bersiap mudik atau bahkan sudah ada yang berada di kampung halaman untuk berkumpul bersama dan bersantai sejenak.

Namun, bagaimana jika rekan kerja atau bos Anda masih saja merecoki Anda yang sedang berlibur panjang dengan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan pekerjaan?

Tentu mengesalkan, bukan?

Hal itu nyatanya dialami Shai Aharony.

Direktur Manajemen Reboot Online itu merasa kesal ketika cuti 10 harinya masih saja direcoki rekan kerja dan klien melalui pesan surat elektronik (e-mail).

"Saya sadar bahwa saya menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca dan menanggapi 212 e-mail daripada menikmati waktu dengan keluarga atau membaca buku," kenang Aharony dikutip dari Theguardian.com, Sabtu (2/7).

Ketika kembali dari liburannya, ia segera melakukan audit e-mail kantornya.

Ia menyadari banyak karyawan di kantornya yang juga bernasib sama.

Para karyawan Reboot Online banyak juga yang menghabiskan liburan dan akhir pekan mereka untuk membalas e-mail kantor.

Akhirnya, Aharony pun memutuskan mengambil tindakan radikal, yakni melarang seluruh karyawan menanggapi e-mail yang masuk setelah jam kerja berakhir.

Reboot Online bukan satu-satunya perusahaan yang membuat kebijakan demikian.

Perusahaan Jerman, seperti Volkswagen dan BMW, juga memiliki kebijakan untuk membatasi tanggapan e-mail kantor setelah jam kerja.

Sementara itu, produsen mobil, Daimler, mempunyai sistem yang otomatis menghapus e-mail yang diterima karyawan saat berlibur.

Perusahaan IT di Prancis, Atos, juga melarang e-mail masuk ke 80 ribu karyawan mereka di luar masa kerja.

Baru-baru ini, legislator Prancis bahkan mengusulkan adanya reformasi hukum perburuhan yang menjamin karyawan memiliki hak untuk berlibur tanpa diganggu urusan pekerjaan.

Namun, reformasi itu memicu perdebatan tentang teknologi yang sudah telanjur memengaruhi kehidupan manusia.

Kendati demikian, banyak akademisi yang berpandangan melarang karyawan untuk mengacuhkan e-mail pekerjaan yang tidak penting merupakan ide yang bagus.

Profesor di bidang sistem informasi dan ilmu kebijakan California State University, Ofir Turel, mengatakan budaya bekerja siap sedia ternyata terjadi karena didorong perubahan teknologi.

"Padahal, penggunaan yang berlebihan dari e-mail dapat menyebabkan meningkatkan kelelahan, membuat konflik dengan keluarga, mengurangi kepuasan kerja, dan mengurangi kebahagiaan," ucap Turel.

Saat ini ada perusahaan di Indonesia yang masih membebani karyawan dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai pekerjaan di luar jam kerja, bahkan saat liburan.

Hal itu tampaknya masih lumrah dilakukan, tinggal bagaimana tanggapan sang karyawan, memilih liburan bersama pekerjaan atau bersama keluarga dan kerabat.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya