Pengesahan Tax Amnesty Beri Sentimen Positif

Anastasia Arvirianty
29/6/2016 13:01
Pengesahan Tax Amnesty Beri Sentimen Positif
(MI/Arya Manggala)

PENGESAHAN RUU Pengampunan Pajak (tax amnesty) dinilai memberi sentimen positif terhadap pergerakan nilai tukar rupiah di pasar uang pada Selasa (28/6). Rupiah kembali menguat, dan bergerak stabil.

Hal itu disampaikan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara kepada media saat dijumpai dalam acara buka puasa bersama, di Gedung BI, Selasa (28/6).

Lebih lanjut, Mirza mengatakan, pihaknya menilai kondisi saat ini bisa dikatakan stabil sehingga bisa dimanfaatkan oleh dunia usaha untuk membuat kembali perencanaan yang lebih positif ke depannya.

“Jadi mereka bisa tambah investasi dan perbankan juga bisa lebih banyak memberi kredit,” ujarnya.

Selain itu, untuk jangka menengah dan panjang, ada dana repatriasi hasil UU Pengampunan Pajak yang dapat menambah cadangan devisa (cadev) negara secara signifikan.

Ia mencontohkan, yakni ketika 2010 silam, saat Amerika Serikat mulai melakukan quantitative easing (QE). Ketika itu, banyak aliran modal masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Sehingga, karena modal masuk yang banyak, cadangan devisa meningkat drastis sebab BI mampu menghimpun dolar yang banyak.

“Waktu 2008, cadev Indonesia itu US$60 miliar dan terus naik di 2010 menjadi US$120 miliar,” papar Mirza.

Ia pun meyakinkan, sampai saat ini, kondisi angka makro Indonesia masih tetap sehat. Inflasi masih terjaga rendah di bulan puasa ini. Inflasi Juni diperkirakan ada di angka 0,5%-0,6%, neraca perdagangan dan transaksi berjalan juga diprediksi surplus dan sehat, dan utang luar negeri swasta terkendali.

“Kami akan ada di pasar untuk selalu menjaga stabilitas. Kami juga pantau likuiditas di pasar uang.”

Di kesempatan yang sama, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo menambahkan, daya dorong pertumbuhan ekonomi dari repatriasi tergantung pada jenis investasinya, akan investasi di sektor apa.

Menurut Perry, sektor yang menggiurkan adalah sektor keuangan dan properti untuk awalan.

Sehingga, lanjutnya, dampak terhadap kenaikan investasi diperkirakan baru akan terjadi paling cepat pada kuartal IV 2016 ini, dan tetap mempertahankan angka prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2016 di angka 5,1%-5,2%, sedangkan untuk kuartal II 2016, BI memprediksi pertumbuhan ekonomi ada di angka 5%-5,1%.

“Angka itu masih cukup baik jika dibandingkan angka prediksi pertumbuhan ekonomi negara lain, sebab yang penting adalah kualitas pertumbuhan,” tandasnya. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya