Ekspor Minyak Sawit Melandai

ANDHIKA PRASETYO
29/6/2016 01:30
Ekspor Minyak Sawit Melandai
(ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

PRODUKSI minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dan palm kernel oil (PKO) dalam negeri pada Mei 2016 mencapai 2,5 juta ton, naik 7% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang hanya 2,3 juta ton. Kendati produksi meningkat, volume ekspor minyak sawit Indonesia di periode yang sama turun 16% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. “Volume ekspor Mei 1,79 ton, sedangkan pada April mencapai 2,09 juta ton,” ujar Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha
Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan di Jakarta, Selasa (28/6).

Ia mengatakan kinerja ekspor minyak sawit Tanah Air dalam periode lima bulan pertama 2016 memang mengalami penurunan, tetapi tidak terlalu signifikan. “Sampai lima bulan pertama 2016, volume ekspor 9,99 juta ton, turun 1% jika dibandingkan dengan periode yang sama 2015, yaitu sebesar 10,09 juta ton,” tuturnya. Tren penurunan yang terjadi diyakini disebabkan melemahnya daya beli pasar global, khususnya Uni Eropa. “Penurunan tertinggi dicatatkan Uni Eropa, yaitu sebesar 26,7% atau dari 368 ribu ton pada April berkurang menjadi 270 ribu ton pada Mei,” papar Fadhil.

Selain Uni Eropa, dua impotir utama lainnya, yakni Tiongkok dan India, juga menurunkan pembelian CPO seiring menurunnya konsumsi dan semakin berkurangnya selisih harga dengan minyak kedelai. “Pada Mei ini, ekspor minyak sawit ke Tiongkok hanya 119 ribu ton atau menurun 20% ketimbang bulan sebelumnya yang sebesar 149 ribu ton,” papar Fadhil. India juga menyusul membukukan penurunan 17% atau dari 568 ribu ton pada April menjadi 471 ribu ton pada Mei. penurunan permintaan India terjadi karena tingginya stok minyak nabati di ‘Negeri Bollywood’ tersebut.

“Selain itu, India sedang mendongkrak impor minyak kedelai mereka untuk memanfaatkan harga yang murah. Dengan harga minyak sawit yang tinggi dan ditambah bea keluar yang dikenakan Indonesia, gap harga kedelai dan minyak sawit tenjadi kecil,” jelas Fadhil. Konsumsi lokal naik Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengutarakan, selain disebabkan melemahnya daya beli pasar dunia, penurunan volume ekspor merupakan hal yang wajar karena tingkat konsumsi dalam negeri yang meningkat. “Hal itu seiring pemberlakuan mandatori biodiesel dan meningkatnya tingkat konsumsi dalam negeri terutama serapan bahan baku untuk industri makanan. Yang penting produksi sawit tetap naik,” ucap Amran.

Dari sisi harga, sepanjang Mei, harga CPO global bergerak di kisaran US$685 hingga US$730 per metrik ton. Adapun harga CPO global sampai pekan ketiga Juni 2016 bergerak di kisaran US$662 hingga US$720 per metrik ton. Harga CPO global terkoreksi sepanjang Juni karena melemahnya permintaan global, padahal jelang bulan Ramadan biasanya permintaan meningkat. “Kami memperkirakan harga CPO global sampai akhir Juni dan pekan pertama Juli akan sedikit rebound dan bergerak di kisaran US$675 hingga US$710 per metrik ton,” tandas Fadhil. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya