DENGAN jumlah penduduk mencapai 230 juta jiwa, predikat pasar e-commerce (perdagangan dengan menggunakan elektronik atau secara virtual) terbesar di Asia Tenggara menjadi lumrah disematkan ke Indonesia. Sayangnya, potensi pasar itu belum diiringi besarnya penetrasi belanja daring. Transaksi e-commerce di dalam negeri tercatat di bawah 1% dari total jumlah penduduk. Kondisi itu berbeda dengan sejumlah negara yang berpenduduk padat di dunia seperti Tiongkok dan Amerika Serikat yang telah membukukan di atas 5%.
Akan tetapi, Asosiasi E-commerce Indonesia (Idea) menilai rendahnya penetrasi e-commerce sebagai peluang usaha. Masyarakat dapat terjun di bisnis tanpa perlu mengeluarkan modal yang besar. Dengan semakin banyak yang terjun pada industri berbasis daring itu, jumlah pengangguran di Tanah Air akan semakin menurun. Pertimbangannya bisnis itu mampu menyerap tenaga kerja dari semua kalangan.
"Perjalanan bisnis e-commerce sejauh ini melibatkan berbagai kalangan. Ibu rumah tangga bisa berjualan langsung dari rumah, kemudian jasa kurir tumbuh di mana-mana," ungkap Ketua Dewan Pengawas Idea William Tanuwijaya di Jakarta, pekan lalu. Ia mencontohkan perkembangan bisnis e-commerce di Tiongkok. Pelaku usaha daring itu menjamur dan menjelma sebagai perusahaan raksasa seperti Alibaba.com.
"Lihat saja di Tiongkok pertumbuhan bisnis e-commerce bisa menyerap tenaga kerja 8%-9% dari total jumlah penduduk. Kalau e-commerce di Indonesia berkembang pesat, saya yakin dalam beberapa tahun ke depan, tenaga kerja yang terserap bisa mencapai 5%-10% dari total penduduk 230 juta jiwa," tutur William. Ketua Umum Idea Daniel Tumiwa menambahkan, hingga saat ini terdapat 144 pelaku usaha berbasis e-commerce yang tergabung dalam asosiasi tersebut. Pihaknya berharap semakin banyak pelaku usaha yang tertarik mengembangkan bisnis e-commerce, khususnya usaha kecil dan menengah (UKM).
"Di daerah, pelaku UKM sering tidak punya harapan memasarkan produknya ke supermarket gara-gara tidak ada modal. Melalui e-commerce, mereka tetap bisa berjualan. Malah pasarnya lebih luas, menjangkau ke berbagai wilayah," urai Daniel.
Danamon online Setelah faktor kemudahan jual beli, hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan ialah keamanan transaksi. Direktur Produk Bhinneka.com, Tommy Chandra, mengakui masalah keamanan masih kerap membuat masyarakat enggan bertransaksi daring. Apalagi terkadang terjadi kasus-kasus penipuan dan phising data alat pembayaran daring.
Dalam menyikapi kekhawatiran konsumen dan penjual e-commerce, Bank Danamon Indonesia pun meluncurkan Danamon Online Banking (DOB). Alternative Channel Head of Danamon Vincent S Tee mengatakan DOB telah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga lebih aman.
Selain itu, alamat situs yang digunakan oleh DOB juga diklaim aman. "Kami menggunakan https, s-nya itu boleh dikatakan secure. Dan kami mendapatkan https itu besertifikasi dari Symantec. Bahkan itu juga aman dari virus yang bisa mengganggu transaksi," jelas Vincent.