Bulog Datangkan 10 Ribu Ton Daging dari India

Andhika Prasetyo
27/6/2016 19:23
Bulog Datangkan 10 Ribu Ton Daging dari India
(ANTARA/Kornelis Kaha)

GUNA terus menekan harga daging, Perum Bulog secara resmi mengumumkan akan mengimpor daging dari India sebanyak 10 ribu ton. Langkah itu merupakan tindak lanjut atas izin impor kedua yang diberikan oleh pemerintah kepada salah satu Badan Usaha Milik Negara itu.

"Ini kami lakukan setelah mendapat perintah izin impor 10 Juni lalu. Sepuluh ribu ton semua akan didatangkan dari India. Bisa kerbau, bisa sapi," ujar Direktur Pengadaan Perum Bulog Wahyu di Jakarta, Senin (27/6).

Saat ini, lanjut Wahyu, izin impor kedua itu masih dalam tahap proses administrasi.

"Kami sudah lakukan komunikasi bersama Kementerian Pertanian. Impor daging dari India ini merupakan yang pertama dalam sejarah Indonesia, jadi harus ada penyesuaian," tuturnya.

Ia menjabarkan ada beberapa jenis dan kode daging yang terlebih dulu disinkronisasi. "Seperti, kita mau daging secondary cut, tapi di sana istilah itu tidak ada. Itu yang kita sesuaikan."

Perum Bulog menargetkan, hingga akhir Juli, sebanyak 9.000 ton daging sudah akan masuk ke Indonesia.

Sebelumnya, dalam izin impor pertama yang diberikan pemerintah, Bulog melakukan impor daging dari Australia dan Selandia Baru, juga sebanyak 10 ribu ton. Namun, ketika pemerintah juga memberikan izin impor daging kepada swasta, Bulog mulai mengubah kebijakan dengan beralih ke India.

"Dulu, sebelum pemerintah memberi izin kepada swasta, komitmen Australia sangat tinggi untuk bisa memenuhi permintaan Bulog. Namun, ketika swasta mulai masuk, harga dari sana bergerak naik karena pembeli bukan hanya kami saja, ada calon pembeli lain juga, yakni swasta," papar Wahyu.

Selain itu, kondisi Australia yang sekarang tengah dilanda musim dingin juga mempengaruhi persediaan daging mereka. "Jadi ada beberapa yang ditunda, bahkan dibatalkan."

Hingga saat ini, dari kloter izin impor pertama, Perum Bulog sudah mendatangkan sekitar 2.800 ton daging sapi asal Australia.

"Tahap pertama 1.800 ton sudah. Tahap kedua, dari target 3.000 ton yang akan tiba sebelum Lebaran, sudah masuk sekitar 900 ton," terangnya.

Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan karut marut gejolak harga daging yang terjadi saat ini harus menjadi yang terakhir kali di Tanah Air.

Kalau memang tidak memiliki persediaan yang cukup, Djarot mengatakan proses impor seharusnya dimulai dua atau tiga bulan sebelum Ramadan.

"Sebenarnya ini bisa diantisipasi, tapi karena kita lebih banyak diskusi dan kebijakan impor dilakukan mendadak, terjadilah gejolak harga," ujarnya.

"Di masa mendatang, semua harus tertata rapi sejak jauh-jauh hari. Impor itu kan dari luar negeri, jauh, tidak seperti beli barang dari Tangerang, dekat. Ada banyak peraturan yang harus dipenuhi. Kalau ini tidak dilakukan, ya ritual gejolak harga akan terus berulang," pungkasnya. (Pra/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya