Bergegas Pakai Gas

MI/ Jessica Sihite
08/7/2015 00:00
Bergegas Pakai Gas
()
TAHUN ini hingga lima tahun ke depan, pemerintah akan menggencarkan pemanfaatan bahan bakar gas (BBG) di tiga sektor, yakni transportasi, kelistrikan, dan perkapalan. Dalam APBN-P 2015, Kementerian ESDM mengalokasikan anggaran Rp4,2 triliun untuk program di sektor minyak dan gas bumi (migas). Dari anggaran tersebut, senilai Rp3,4 triliun akan dialokasikan untuk program mempercepat konversi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) ke BBG.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM IGN Wiratmaja Puja menuturkan harga penggunaan BBG bisa lebih murah 60% ketimbang harga BBM. Meski pada 2019 sebagian gas alam harus diimpor karena tingginya kebutuhan, harganya masih lebih murah ketimbang harga impor BBM. Saat ini, harga BBG berada pada level Rp3.100 per liter setara premium, sedangkan harga premium Rp7.400 per liter, itu pun harga subsidi.

"Kalau menggunakan LNG, pasti akan dicampur dengan gas pipa (CNG). Harganya akan naik. Namun, selama harga gas ini 60% lebih murah daripada BBM, masih sangat ekonomis," ujar Wiratmaja kepada Media Indonesia, kemarin. Pemerintah menganggarkan Rp1,69 triliun untuk membangun 22 stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) tahun ini. Pelaksanaannya diserahkan kepada PT Pertamina (persero). Saat ini, SPBG yang ada di Indonesia baru 43 unit, dan yang beroperasi hanya 28. Sisanya masih terkendala oleh izin daerah dan penolakan warga.

Untuk mendorong iklim usaha SPBG, pemerintah berencana menaikkan margin usaha SPBG sebanyak dua kali lipat dari yang saat ini berlaku. "Sekarang Rp200 per liter. Pasti akan dinaikkan karena membuat SPBG jauh lebih mahal ketimbang SPBU karena ada kompresornya. Ini supaya swasta juga ikut membangun," tutur Wiratmaja.

Di sektor kelistrikan, pada September tahun ini pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) Pesanggaran, Bali, yang diubah menjadi pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) berkapasitas 200 megawatt (Mw), akan resmi beroperasi. Wiratmaja memperkirakan biaya yang akan dihemat mencapai 60%.

Terealisasi 2017
Untuk sektor perkapalan, pemerintah bakal mengalihkan penggunaan diesel pada kapal menjadi gas. Program konversi itu baru akan benar-benar terealisasi pada 2017. Tahun ini, pemerintah baru akan membeli lahan dekat pelabuhan untuk membangun stasiun pengisian gas alam cair (LNG) untuk kapal. Anggaran yang dialokasikan tahun ini sebesar Rp240 miliar.

Menurut Wiratmaja, aturan yang mewajibkan kapal menggunakan LNG sebagai bahan bakar juga sedang didiskusikan dengan Kementerian Perhubungan. Dalam menanggapi program konversi ke BBG, Executive Director of ASEAN Centre for Energy Sanjayan Velautham mengingatkan efisiensi energi bukan hanya terkait jenis bahan bakar. Teknologi yang digunakan pun memegang peranan penting.

"Bahan bakar bisa ditukar dengan apa saja, tetapi efisiensi energi itu tergantung dari teknologinya," ujar Sanjayan di Jakarta, kemarin. Namun, diakui Sanjayan, penggunaan gas alam untuk BBG di sektor transportasi lebih ramah lingkungan karena kadar karbon yang lebih rendah ketimbang yang dihasilkan diesel.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya