Efisiensi Dorong Kenaikan Produksi Minyak Pertamina

Jajang Sumantri
23/6/2016 17:58
Efisiensi Dorong Kenaikan Produksi Minyak Pertamina
(ANTARA/SAHRUL MANDA TIKUPADANG)

ANJLOKNYA harga minyak global hingga 69% dalam 18 bulan terakhir membuat banyak perusahaan migas mengalami pertumbuhan negatif. Namun, seiring upaya efisiesi operasional, PT Pertamina (Persero) mampu mempertahankan tren positif produksi minyak di kuartal I 2016 di kisaran 307 ribu barel per hari (bph), naik dari periode sama tahun lalu yang sebesar 267,9 ribu bph dan produksi gas yang juga meningkat dari 1,62 miliar kaki kubik per hari (BSCFD menjadi 1,98 BSCFD.

"Banyak yang bertanya sampai harga berapa Pertamina kita masih bisa hidup? Kalau sekarang US$ 20/barel, kita masih bisa hidup," kata Direktur Hulu Pertamina, Syamsu Alam, di Jakarta, Rabu (22/6) malam.

Hal itu karena perseroan mampu menekan biaya produksi minyak pada level sangat rendah, buah dari efisiensi. Pada 2013, biaya produksi per barel US$ 22,1. Pada 2014 naik sedikit menjadi US$ 23,8/barel, kemudian 2015 turun sampai US$ 20,7/barel. "Sampai April 2016 rata-rata biaya produksi hanya US$ 15,6/barel," papar Alam.

Menurutnya, penurunan biaya produksi minyak dihasilkan dari upaya efisiensi yang efektif dan tepat sasaran. "Efektif adalah melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan. Misalnya produksi, kita melakukan dengan cara yang benar, jangan over budget dan waktunya jangan terlambat serta memilih program yang pas kita lakukan."

Dengan upaya itu pula, lanjutnya, di saat mayoritas perusahaan migas di dunia mengalami penurunan pendapatan, sektor hulu masih mampou berkontribusi terhadap pendapatan bersih Pertamina yang masih tumbuh 1,4% di 2015.

Untuk meningkatkan produksi, pihaknya juga menyasar keterlibatan perseroan dalam penggarapan Blok Masela di Maluku Tenggara yang dikelola Inpex dan Shell.

"Kami siap untuk terlibat lewat mekanisme participating interest maupun business to business, minimal 20% untuk skema produksi LNG apapun di Masella," katanya.

Pihaknya juga akan terus berekspansi mencari sumber-sumber migas di luar negeri dengan jalan merger ataupun akuisisi. Hal ini harus dilakukan karena cadangan terbukti minyak di Indonesia tinggal 3,7 miliar barel. "Akuisisi blok migas di luar negeri itu untuk menjaga ketahanan energi Indonesia," katanya.

Saat ini, Pertamina sudah mengeksplorasi minyak di Aljazair, Irak, dan Malaysia. Beberapa negara di Afrika Barat, Timur Tengah, dan Asia Barat. Selain itu masih ada peluang tambahan dari Rusia, hasil kerja sama dengan Rosneft sebesar 30 ribu bph dan encana kerja sama pengelolaan blok migas di Iran.

"Targetnya, produksi minyak Pertamina dari luar negeri dapat mencapai 337.000 barel per hari (bph) pada 2030," tutur Alam. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya