Investasi untuk Jangka Panjang

Anastasia Arvirianty
06/7/2015 00:00
Investasi untuk Jangka Panjang
(ANTARA/Puspa Perwitasari)
KONDISI perekonomian global dan domestik yang belum cukup membaik membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih ikut fluktuatif dan memengaruhi kinerja pasar reksa dana.

Melihat kondisi tersebut, anggota kompartemen Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Rudiyanto menilai wajar jika kinerja reksa dana saham selama semester I 2015 ini negatif karena sebesar 80% portofolio asetnya diinvestasikan pada saham-saham yang terdaftar di BEI.

"Memang perlambatan ini juga membuat kinerja IHSG loyo dan berdampak pada kinerja reksa dana saham. Hingga enam bulan pertama tahun ini, kinerja reksa dana saham turun 9%. Tak hanya reksa dana saham, reksa dana campuran juga terkoreksi sampai 4%," kata Rudiyanto dalam sosialisasi di Jakarta, Kamis (2/7).

Meski demikian,  reksa dana pendapatan tetap tumbuh 1,8%. Instrumen reksa dana pendapatan tetap lebih stabil ketimbang instrumen reksa dana lainnya. Rudiyanto menjelaskan produk reksa dana pendapatan tetap terkait dengan inflasi dan suku bunga. Tingkat inflasi sampai pada Juni 2015 kemarin dinilai masih terkendali.

"Kalau dilihat secara year-on-year (inflasi) memang 7%. Namun kalau secara tahun kalender, inflasi masih tergolong terkendali," papar Rudiyanto, Kamis (2/7)

Menurut dia, untuk outlook, seharusnya tahun ini target inflasi bisa tercapai, yaitu 3% sampai 5%. Ketika target inflasi tercapai, harga obligasi di semester II akan membaik dan menjadikan harga reksa dana pendapatan tetap di semester II juga ikut membaik.

Rudiyanto pun mengakui, memang situasi perekonomian Indonesia sedang kurang baik. Namun, pria yang juga merupakan Head of Operation and Business Development Panin Asset Management itu menegaskan Indonesia belum akan memasuki masa krisis ekonomi.

Ketika kondisi perekonomian seperti saat ini, Rudiyanto menilai akan percuma jika para investor reksa dana justru keluar dari pasar. Mereka dinilai tidak perlu untuk melakukan pemindahan instrumen investasi.

"Kuncinya ialah melihat kembali tujuan investasi dan fokus pada tujuan tersebut," katanya.

Saatnya top-up
Di saat perekonomian melambat, Kepala Riset PT NH Korindo Sekuritas Indonesia Reza Priyambada menyatakan strategi yang paling ideal untuk mempertahankan nilai reksa dana ialah dengan melakukan penambahan dana (top-up).

Lebih lanjut, Reza menjelaskan, karena kondisi perekonomian yang kurang baik, hal yang wajar jika kinerja reksa dana tidak bisa memberikan imbal hasil (return) yang maksimal dan nilai aktiva bersih (NAB) yang turun.

"Itu justru membuktikan kalau sekuritas tersebut bukan sekuritas palsu atau istilahnya bukan investasi bodong, karena ketika saham turun, mereka ikut turun," kata Reza kepada Media Indonesia melalui sambungan telepon, kemarin.

Ia menyarankan kepada nasabah untuk melihat investasi reksa dana dari aspek tujuan investasi dan jangka waktu yang diperuntukkan jangka menengah dan panjang. (E-3)

arvirianty@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya