Soal Ekonomi RI Diatas Yunani

Nuriman Jayabuana
06/7/2015 00:00
Soal Ekonomi RI Diatas Yunani
Sejumlah pengamat ekonomi mengatakan perlambatan ekonomi Indonesia dinilai sangat mengkhawatirkan.(ANTARA/Andika Wahyu)

EFEK kegagalan Yunani membayar utang Rp22 triliun kepada IMF sudah bertransmisi ke negara-negara emerging market selama empat bulan terakhir. Tidak terkecuali Indonesia. Akan tetapi, serta-merta memersepsikan keterpurukan perekonomian di 'Negara para Dewa' bakal menjalar ke Tanah Air hanyalah kekhawatiran yang teramat berlebihan. Demikian rangkuman pendapat sejumlah pengamat ekonomi yang disampaikan kepada Media Indonesia, kemarin.

Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono berkeyakinan kondisi perekonomian Indonesia kini cukup jauh untuk dikatakan bakal mengikuti jejak Yunani di ambang kebangkrutan.

"Kondisi di Yunani menyerupai krisis ekonomi di Indonesia pada 1998. Pada 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 14%. Selain itu, inflasi menyentuh 78% karena rupiah jatuh. Masyarakat menarik da- nanya dari bank. Kini, inflasi year on year di Indonesia tercatat 7,15%," kata Tony.Hanya, lanjut Tony, Indonesia bisa mengambil pelajaran dari krisis ekonomi Yunani dengan menjaga stabilitas fiskal. "Yunani begitu mudah membuat defisit anggaran 8% sehingga harus menutupi defisit melalui utang. Rasio utang Yunani terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 170%, sedang kan kita baru sekitar 33%.

"Hal senada juga diungkapkan Staf Khusus Menko Perekonomian Arif Budimanta. "Indonesia tidak mengalami keterpurukan seperti Yunani. Kondisi makroekonomi Indonesia lebih sehat, dengan rasio utang terhadap PDB jauh lebih kecil. Kemudian defisit fiskal Indonesia sampai kini tercatat 1,9%. Yunani di atas 50%."

Selain itu, menurut Arif, alokasi APBN Indonesia terbi-lang sehat, yakni hanya sekitar 30% untuk belanja pegawai. Sisanya untuk belanja modal dan infrastruktur. "Yunani meng-anggarkan biaya birokrasi 70% dari anggaran. Kita lebih sehat dalam pengelolaan fiskal."

Bantuan Eropa

Kendati demikian, kata Arif, Indonesia patut mewaspadai pertumbuhan ekonomi yang belum mencapai target. Misalnya dengan menjaga inflasi, khususnya harga kebutuhan pangan agar daya beli masyarakat terjaga. "Sekarang alokasi anggaran desa meningkat menjadi Rp21 triliun. Artinya, politik anggaran kita sudah tepat.

"Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia Anwar Nasution menilai krisis ekonomi di Yunani disebabkan besarnya pinjaman luar negeri pemerintah. Pemerintah Yunani memanfaatkan tingkat suku bunga murah di Eropa untuk membelanjai defisit yang kian membengkak dengan menjual obligasi. Hingga berita ini diturunkan, hasil referendum Yunani yang berlangsung pukul 07.00-19.00 waktu setempat kemarin (pukul 11.00-23.00 WIB) belum diketahui hasilnya.

Yunani menggelar referendum terkait dengan dana talang-an IMF dan Bank Sentral Eropa dilanjutkan atau tidak (lihat grafik). Dalam referendum warga Yunani diminta memberikan suara 'ya' atau 'tidak'. Jika jawaban 'tidak' yang mendominasi, Yunani menolak kebijakan kreditur dan otomatis keluar dari zona euro. Namun, Kepala Parlemen Eropa Martin Schulz memastikan pihaknya akan tetap membantu Yunani agar pelayanan publik di negara tersebut tidak terganggu. (AFP/Pra/Tes/Beo/X-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya