Sasar Pemudik Asuransi Gunakan Jalur Digital

MI
20/6/2016 08:50
Sasar Pemudik Asuransi Gunakan Jalur Digital
(MI/Agus Mulyawan)

TIDAK semua dari sekitar 25,5 juta pemudik musim Lebaran tahun ini melindungi diri dan keluarga mereka dari risiko kecelakaan dalam perjalanan ke kampung halaman. Hal itu menjadi peluang bagi industri asuransi untuk meningkatkan penetrasi produk melalui aplikasi berbasis teknologi digital.

Head of Communication & Strategic Marketing PT Zurich Topas Life, Chiqita Winaring Hayu, mengatakan peluang itu sangat terbuka bagi seluruh pemain industri asuransi, termasuk pihaknya.

"Kami membuat aplikasi yang bisa diunduh siapa saja lewat telepon seluler. Setiap pendaftar pertama memperoleh perlindungan gratis yang mencakup risiko meninggal dunia karena kecelakaan dengan nilai pertanggungan Rp25 juta," kata Chiqita di Jakarta, akhir pekan lalu.

Presiden Direktur Zurich, Peter Huber, mengakui kehadiran aplikasi bertajuk Temanbaik itu menumpang pesatnya pertumbuhan teknologi digital di Tanah Air.

Berdasarkan data lembaga We Are Social, kenaikan pengguna internet di Indonesia pada Januari 2015-Januari 2016 mencapai 15% dari populasi. Lonjakan itu berimbas pada aktivitas media sosial yang tumbuh 10%.

"Masyarakat bisa mengunduh dari Apple App Store dan Google Play Store. Nantinya aplikasi kami akan dikembangkan dengan fitur-fitur tambahan, seperti pengajuan klaim, profil agen, dan lokasi agen agar nasabah mudah berkomunikasi dengan kami," ujar Huber.

Senada, Agency Principal Zurich, Wira Arjuna, menyebut tingginya pertumbuhan penduduk Indonesia yang menggunakan telepon seluler untuk kegiatan sehari-hari terutama generasi muda sejatinya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat penetrasi asuransi kepada masyarakat.

Akan tetapi, tingginya perkembangan teknologi digital itu tidak diimbangi dengan pemanfaatan untuk kesejahteraan. Penelitian Bank Dunia yang dilansir awal Maret 2016 menunjukkan banyak negara mengalami ketimpangan ekstrem dalam pemanfaatan teknologi digital di negeri mereka.

Oleh karena itu, Bank Dunia merekomendasikan negara-negara, termasuk Indonesia, untuk mengurangi ketimpangan itu dengan cara memperluas akses internet bagi seluruh penduduk.

"Begitu pula dengan penetrasi asuransi di Indonesia, masih sangat rendah, di bawah 10% dari total populasi. Karena itu, kami terus memperkuat layanan dengan memanfaatkan teknologi digital," ungkap Wira. (Ten/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya