JELANG berbuka, seorang ibu muda masih disibukkan dengan pengemasan kue kering untuk beberapa ukuran stoples berbentuk tabung. Sementara itu, seorang asistennya mengawasi panggangan agar suhu tetap panas dan stabil. Memanfaatkan dapur pribadi, Anindya Sari, 30, kini telah bersahabat dengan adonan cookies chocochipi. Ibu dari seorang anak yang masih balita itu awalnya hanya coba-coba membuat kue demi mengisi kekosongan kegiatan pascaberhenti bekerja saat mengandung anak pertama pada akhir 2012 lalu.
Kegiatan itu memang awalnya hanya ingin membuat kue untuk dikonsumsi sendiri. Namun, setelah sang suami, Firdaus Juliansyah, 30, mencicipi hasil karya kue kering tersebut, sang lantas tergugah untuk memasarkannya beberapa bulan kemudian. "Waktu saya cobain kok rasanya tidak terlalu manis seperti cookies pada umumnya. Cockies di luar negeri aslinya memang manis sekali karena di sana dingin. Saya berpikir ini cocok untuk lidah masyarakat Indonesia dengan cuaca dan ragam masakan yang berani dengan bumbu sehingga harus dinetralkan dengan cookies yang tidak terlalu manis," kenang Daus.
Daus pun langsung membuat rencana dan strategi penjualan produk buatan tangan istri tercintanya dengan menyiapkan tiga bulan masa tester atau uji coba. Cookies chocochip pun diperkenalkan kepada para kerabat dekat dan rekan kerja. Saat itu produknya hanya laku tidak sampai 10 stoples setiap bulan. Seiring dengan berjalannya waktu, kini cookies chocochip yang diberi nama Seriouz Eater mampu terjual 20-30 stoples per bulan.
Namun, saat menjelang Lebaran, dalam minggu pertama bulan Ramadan, Anin dan Daus sudah menerima order 100 stoples. Mereka menargetkan pesanan satu bulan ke depan bisa mencapai 500 stoples. Mereka membanderol dengan harga bervariasi bergantung pada ukuran. Misalkan, untuk ukuran 240 gram, dijual seharga Rp65 ribu, 135 gram Rp45 ribu, dan untuk pesanan kiloan dikemas dalam bentuk plastik seharga Rp260 ribu/kg. "Biasanya para ibu mau menyajikannya dengan stoples koleksi pribadi," jelas Daus.
Beberapa penawaran juga diberikan jelang Lebaran. Mereka menawarkan dalam bentuk parcel dan kemasan kotak berisi empat stoples yang bisa dijadikan antaran saat bersilaturahim.
Segmen tersendiri Pesatnya orderan tersebut tidak diduga pasangan suami istri itu sebelumnya. Tadinya, mereka mengira hanya kaum perempuan saja yang akan menjadi pasar mereka. Ternyata di luar dugaan, kaum pria pun mendominasi konsumen Seriouz Eater itu. Menurut Daus porsinya sama. "Cookies memang punya segmennya tersendiri, mereka yang pesan selalu repeat order. Dari mereka juga ada konsumen baru dan terus berulang demikian," jelas Anin. Saat ini Anin dibantu seorang karyawan.
Sang kreator, Anin, tidak memiliki resep khusus untuk cookies-nya. Ia hanya belajar dari internet dan mengembangkannya sesuai dengan selera. Lain halnya dengan Vinsensia Rhesa Runtu. Ibu tiga anak itu mengandalkan resep turunan nenek suaminya, Nancy Runtu, untuk membuat cookies berbahan dasar oatmeal. Saat memasuki minggu kedua di bulan Ramadan, Rhesa langsung mendapat pesanan 25 stoples dalam sehari. Perempuan berusia 28 tahun itu memang sengaja tidak mencari konsumen secara agresif. Ia hanya mengandalkan pesanan dari para kerabat.
Biasanya, selain Ramadan, Rhesa rutin membuat 60 stoples dalam seminggu. Ditambah kue kering premiumnya yang hanya dibuat 10 stoples saja mengingat prosesnya yang lebih rumit. Namun, waktu pembuatan kue yang diberlakukan Rhesa hanya tiga-empat hari kerja karena ia ingin meluangkan waktunya bersama anak-anak tercinta dan suami. Rhesa pun hanya menargetkan 150 stoples penjualan di bulan Ramadan. "Pesanan tergantung seberapa saya aktif di media sosial," lanjutnya.
Seperti halnya Anin, Rhesa memutuskan untuk berhenti bekerja dari dunia modeling saat mengandung anak ketiganya. Pada September lalu, ketika bayinya telah berusia dua bulan, Rhesa baru memulai memasarkan cookies yang diberi merek dagang Ma's Loving Hand itu. "Berkat usaha ini saya jadi bisa tetap dekat dengan anak-anak tanpa harus meninggalkannya pergi bekerja," terang Rhesa. Saat ditemui di rumahnya, di bilangan Cinere, Depok, Rhesa juga memanfaatkan dapur rumahnya untuk berkreasi membuat 10 varian cookies oatmeal dan tiga varian kue kering lain dengan bahan premium, seperti penggunaan butter untuk mengganti margarin.
Secara pribadi, Rhesa berkeinginan untuk membuat camilan sehat. Pemilihan oatmeal pun yang identik dengan bubur itu menjadi bahan tambahan dari terigu yang biasanya digunakan secara penuh dalam pembuatan cookies. "Cookies ini sangat direkomendasikan untuk anak-anak karena kaya akan serat," sarannya. Untuk dapat membuat cookies oatmeal, Rhesa membutuhkan hingga dua bulan masa percobaan dari resep yang diberikan nenek suaminya. Kegagalan berulang kali terjadi hingga akhirnya menghasilkan produk yang sempurna.
Kini semua produknya dijual dari kisaran harga Rp60 ribu-Rp70 ribu per stoples. Baik Rhesa maupun Anin, keduanya mengambil sekitar 50% dari biaya produksi yang dikeluarkan. Kendati banyak produk cookies di pasaran, mereka sama-sama optimistis untuk menjalankan bisnis itu karena memiliki cita rasa tersendiri. Bagi Rhesa kekuatan fresh cookies-nya itu ialah modal utama. Rhesa hanya membuat adonan bila ada pesanan, jadi ia tidak menerapkan sistem ready stock. Sementara itu, Anin melakukan sistem tersebut dengan kurun waktu tiga bulan.
Selain ingin menjaga kesegaran cookies-nya, Rhesa punya alasan sendiri kenapa tidak membuat cookies terlalu banyak. Rupanya ia ingin fokus untuk mendampingi masa pertumbuhan anak-anaknya. Walaupun di kerjakan di dalam rumah, kerja sampingan itu cukup menyita waktu dan membutuhkan usaha lebih. "Bukannya tidak mau membesarkan usaha ini, tapi saya prioritaskan keluarga saya dulu. Soal rencana saya sudah pikirkan nantinya akan dikembangkan menjadi produk-produk camilan sehat, tidak hanya cookies saja. Saya juga ingin mengembangkan hobi saya membuat cake dan home made crochet," terang Rhesa.
Selain chocochip yang menjadi bahan utama cookies itu, keduanya sama-sama memiliki inovasi untuk rasa green tea dan almond yang sedang digandrungi para penikmat camilan. Sisanya tetap mengandalkan rasa original cookies