Sektor Pariwisata Akan Jadi Primadona Penyumbang Devisa

16/6/2016 21:16
Sektor Pariwisata Akan Jadi Primadona Penyumbang Devisa
(FOTO ANTARA/Nyoman Budhiana)

SEKTOR pariwisata terus menggelinding cepat dan makin moncer. Industri servis yang berbasis pada turis terus berbiak dan makin terasa di semua level.

"Saya percaya pada 2020 sektor pariwisata paling berpotensi menjadi primadona dan urutan tertinggi penyumbang devisa. Datanya ada dan konkret. Tiga tahun terakhir semua sektor usaha mengalami penurunan. Tetapi tidak bagi pariwisata. Justru naik signifikan,” papar Ketua Komisi X Teuku Riefky Harsya.

Dia berpegang pada data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam tiga tahun terakhir pariwisata Indonesia memang menunjukkan trend kenaikan di saat komoditas lain justru menurun seperti minyak dan gas bumi.Tren penurunan sejumlah komoditas tadi sangat kontras bila dibandingkan dengan devisa yang sidumbang pariwisata.

Di 2013, pariwisata hanya bisa menyumbang devisa sebesar US$ 10,054.1 juta. Sementara pada 2015, angkanya menembus US$ 11,629.9 juta.

Yang membuat Riefky makin percaya diri, data UNWTO Tourism Highlights 2014, UNWTO World Tourism Barometer, Januari 2015 dan WTTC, Januari 2015, memperlihatkan grafik perjalanan wisatawan internasional yang terus naik. Dari 25 juta pada 1950, tumbuh menjadi 278 juta di 1980. Di 1995, angkanya bergerak naik hingga 528 Juta. Dan di 2014, angkanya sudah menembus 1,14 miliar.

Realita di atas membuat Industri pariwisata dikategorikan sebagai the world's largest industry . Tiongkok sebagai negara industri manufaktur terbesar dunia, perlahan tapi pasti mulai menggeser arah ekonomi menuju industri pariwisata.

Ini terlihat dari investasi besar-besaran dalam bidang pariwisata. Di kawasan Asia Tenggara, ada Singapura yang sudah mulai fokus ke pariwisata. Di samping menjadi jalur perdagangan internasional, Negeri Singa Putih itu sekarang sudah mendeklarasikan diri menjadi salah satu surge belanja dunia. Juga Thailand. yang sudah sukses mendatangkan 30 juta wisman di 2015. (RO/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya