Agar Pilar Ekonomi Nasional tidak Hilang

Tjahyo Utomo/E-3
03/7/2015 00:00
Agar Pilar Ekonomi Nasional tidak Hilang
(MI/SENO)
SEJATINYA urat nadi ekonomi nasional ada di pasar tradisional. Dalam sejarah bangsa ini, keberadaan pasar tradisional bukan sekadar tempat transaksi antara penjual dan pembeli.

Interaksi sosial antara penjual dan pembeli sering kali menjadi hubungan yang lebih personal. Dengan kondisi itu, hubungan antara penjual dan pembeli ini bisa membentuk jaring pengaman sosial ekonomi rakyat.

Sebagai contoh saat resesi ekonomi, harga-harga naik, sedangkan kebutuhan dan pendapatan masyarakat cenderung tetap. Karena keterikatan emosi sebagai langganan, si pembeli pun mendapat kemudahan transaksi dari si penjual. Misalnya, kemudahan berutang atau potongan harga khusus.

Dalam konteks ini, pasar tradisional memang bisa diandalkan menjadi katup pengaman sosial ekonomi masyarakat. Hadirnya pasar modern sekelas supermarket atau hipermarket telah menggerus keberadaan pasar tradisional.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo tampaknya sadar peran strategis pasar tradisional sebagai pilar kekuatan ekonomi nasional. Tahun ini pemerintah menggulirkan program revitalisasi 1.000 pasar tradisional di seluruh Indonesia.

"Jangan sampai pasar tradisional kalah dengan pasar modern. Kalau dibiarkan, pasti pasar ini akan hilang," kata Presiden Jokowi saat meresmikan program revitalisasi 1.000 pasar tradisional di Purwokerto, Jawa Tengah, belum lama ini.

Untuk melakukan revitalisasi pasar tradisional tahun ini dana yang dikeluarkan pemerintah sebesar Rp2,39 triliun. Sebanyak Rp1,07 triliun untuk 675 pasar berasal dari APBN dan Rp1,3 triliun untuk 325 pasar dari APBN-P.

Dalam lima tahun ke depan, pemerintah menargetkan 5.000 pasar tradisional telah direvitalisasi.

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel berpendapat revitalisasi pasar tradisional tidak hanya dari aspek fisik, tetapi juga telah mempertimbangkan kelanjutan dan pengembangan pasar rakyat ke depannya.

Ada empat aspek yang akan disasar dalam program revitaliasi pasar tradisional ini. Pertama, agar pasar lebih bersih, kedua agar pengelolaaanya profesional. Aspek ketiga ialah agar pasar menjadi sarana perdagangan dan titik distribusi yang strategis dalam mengawal harga dan menjaga inflasi, dan keempat agar pasar menjadi pusat interaksi dan wadah sosial masyarakat sekitar.

"Pembangunan atau revitalisasi pasar tradisional atau pasar rakyat ini harus berpedoman pada Standar Nasional Indonesia (SNI) yang telah ditetapkan," kata Rachmat.

Sekalipun pasar tradisional direvitalisasi untuk bersaing dengan pasar modern, budaya silaturahim sosial ekonomi yang terjadi di sana harus dipertahankan. Justru itu menjadi kekuatan nadi ekonomi rakyat yang mampu bertahan di saat resesi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya