Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan impor barang konsumsi di atas 15% selama Mei 2016 terhadap April 2016. Secara kumulatif, Januari-Mei 2016, impor barang konsumsi naik 14,15% ketimbang periode yang sama tahun lalu menjadi US$5,01 miliar.
Kepala BPS Suryamin berpandangan kenaikan itu dipengaruhi persiapan jelang Ramadan yang dimulai pada awal Juni ini, juga antisipasi kebutuhan Lebaran yang biasanya meningkat.
Pemerintah dan produsen banyak mengimpor barang kebutuhan pokok, seperti gula dan kembang gula, gandum, dan makanan dan minuman olahan.
"Dugaan kami, kenaikan impor barang konsumsi disebabkan antisipasi mau Lebaran," ucap Suryamin dalam jumpa pers di Jakarta, kemarin (Rabu, 15/6).
Ia mencontohkan nilai impor gula dan kembang gula pada Mei 2016 mencapai US$179,4 juta, naik 92,08% dari bulan sebelumnya. Secara kumulatif, nilai impor gula dan kembang gula mencapai US$656 juta, naik 12,38% dari periode yang sama tahun lalu. Nilai impor gandum juga meningkat 16,3% dari April 2016 dan secara kumulatif, nilai impor gandum naik 27,19%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo menambahkan, bulan ini amat mungkin impor barang konsumsi masih terus naik. Pasalnya, pemerintah juga mulai mengimpor daging sapi beku pada bulan ini.

Demikian juga impor gula dan gandum masih akan naik untuk memenuhi kebutuhan Lebaran pada Juli nanti. "Namun, saya kira Juli akan mulai turun karena kebutuhan Lebaran hanya sampai minggu pertama Juli. Namun, impor barang modal dan bahan baku mungkin akan naik."
Ekonom UI I Kadek Dian Sutrisna menilai kenaikan impor barang konsumsi menandakan bertumbuhnya perekonomian domestik. Konsumsi dinilai masih menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Walakin, dia tetap mewanti-wanti pemerintah mengenai kinerja impor barang konsumsi. "Produksi kita terbatas, maka konsumsi dipenuhi impor. Kecenderungan meningkatnya impor barang konsumsi tidak hanya karena menjelang Lebaran, tetapi juga periode sebelumnya," tutur Kadek.
Di sisi lain, impor barang modal masih lesu. Kadek memandang kondisi itu erat kaitannya dengan perkembangan investasi dan industri domestik yang masih lemah. Nilai impor barang modal pada Mei 2016 turun 7,14% ketimbang April 2016. Secara kumulatif pun turun 16,68% year on year.
Surplus berlanjut
Secara umum, nilai ekspor Indonesia mencapai US$11,51 miliar pada Mei 2016. Sementara itu, impor US$11,14 miliar. Dengan begitu, terdapat surplus perdagangan US$375,6 juta pada Mei.
Secara kumulatif Januari-Mei 2016, neraca perdagangan luar negeri Indonesia surplus US$2,69 miliar. "Angkanya memang surplus, tapi surplus dari situasi ekspor turun dan impor turun. Artinya itu berita bagus, tapi ada tidak bagusnya juga," komentar Menko Perekonomian Darmin Nasution.
BPS juga meminta pemerintah mewaspadai Thailand. Pasalnya, defisit neraca dagang Indonesia dengan Thailand besar. Per Mei, defisit perdagangan nonmigas mencapai US$1,94 miliar. "Thailand mulai menjadi ancaman di era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN)," kata Suryamin.
Ia menyarankan pemerintah sebaiknya bisa mendorong sektor pertanian dan industri dalam negeri. Pasalnya, Thailand malah menjadikan Indonesia sebagai tempat belajar sampai negara tersebut jauh lebih unggul daripada Indonesia.
"Kita mesti bisa dorong industri pengolahan. Jangan jual yang fresh, tapi diolah. Itu bisa meningkatkan nilai ekspor kita tidak hanya ke Thailand, tapi ke berbagai negara," jelasnya.(Ant/E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved