Otoritas Penerbangan Uni Eropa (UE) hingga kini hanya mengizikankan empat maskapai Indonesia, dari total 65 maskapai, untuk menerbangi wilayah itu.
Empat maskapai tersebut ialah Garuda Indonesia, Indonesia Air Asia, Airfast Indonesia, dan Ekspres Transportasi Antar Benua (Premi Air), sedangkan sisanya masih masuk daftar hitam atau terkena larangan (banned).
Menilik hasil tersebut, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengupayakan agar lebih banyak maskapai penerbangan nasional yang bisa terbang menembus Benua Eropa berdasarkan penilaian Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) dan Uni Eropa.
"Dorongan evaluasi semakin diperkuat adanya utusan dari Uni Eropa ke Kementerian Luar Negeri bahwa kita bisa saja dibanned sepenuhnya jika tidak membuat kemajuan dari daftar unsatisfied," tutur Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Udara (KUPPU) Kemenhub Muzzafar Ismail di Jakarta, Senin (29/6).
Pada November mendatang, kata dia, Kemenhub akan mengusulkan daftar maskapai yang sebelumnya dilarang terbang ke Uni Eropa ke Air Safety Committee (ASC) Meeting di Brussels, Belgia. Maskapaimaskapai itu antara lain PT Citilink Indonesia, Lion Group (Lion Air, Batik Air, dan Wings Air), dan Indonesia AirAsia X.
Muzaffar mengatakan pengajuan tersebut karena kekhawatiran yang dirilis oleh Uni Eropa bahwa hasil audit terhadap maskapai nasional tidak terlalu baik dan tidak menutup kemungkinan akan kembali dilarang terbang ke Eropa.
Untuk itu, dia mengatakan tengah melakukan perbaikanperbaikan dengan menjawab corrective action plan (CAP) yang saat ini sudah mencapai 81,5%. "Walaupun hasil audit kita tidak terlalu bagus, kondisi CAP kita sudah 81,5% fully address," katanya.Menuju standar Eropa Direktur Umum Lion Air Edward Sirait merasa bersyukur jika Kementerian Perhubungan mau berusaha mengeluarkan Lion Air dan Batik Air dari daftar hitam penerbangan ke Uni Eropa. Namun, ia menyatakan Lion Air akan tetap menuju standar internasional walaupun Uni Eropa tetap melarang mereka masuk.
Ia mengatakan Lion Air saat ini sedang dalam proses menuju standar penerbangan internasional. Peralatan dan keamanan Lion Air saat ini sedang dalam proses sertifikasi standar European Aviation Safety Agency (EASA). "Semoga sebulan ini sertifikatnya keluar," ujar Edward saat dihubungi, Selasa (30/6).
Pelatihan penerbangan di Lion Air pun, menurutnya, sedang menuju standar Airbus dan Badan Keselamatan Penerbangan Eropa.
Sementara itu, Direktur Utama PT Citilink Indonesia Albert Burhan mengatakan, saat ini Kemenhub baru menekankan Citilink untuk mem persiapkan presentasi terkait keamanan penerbangan.
"Yang paling ditekankan keamanannya. Yang lain, kita masih menunggu Kemenhub apa saja yang harus dipresentasikan kepada Air ASC di Brussels, Belgia, pada November mendatang," ujar Albert saat dihubungi, Selasa (30/6).
Menurut Albert, tingkat keamanan (safety) pesawatpesawat Citilink sudah memenuhi standar. Sebagai anak usaha dari PT Garuda Indonesia, Albert mengklaim tingkat keamanan armadanya sama dengan induknya. (Jes/E3) tesa@mediaindonesia.com