Serbuan Jepang di Pasar Moge Indonesia

INSAN AKBAR KRISNAMUSI
02/7/2015 00:00
Serbuan Jepang di Pasar Moge Indonesia
()
PARA pabrikan Jepang yang dahulu hanya bermain di segmen 'massal' seperti underbone, skuter matik, dansport perlahan-lahan menyusup di segmen motor besar. Dalam dua tahun terakhir, model-model sepeda motor berkapasitas mesin di atas 600 cc milik 'Negeri Sakura' berdatangan.

Yamaha memulai pada 2013 dengan memboyong YZF R1, YZF R6, VMAX, dan TMAX ke Tanah Air. Setahun berselang, giliran Suzuki menghadirkan V-Strom650 ABS, GSR750, serta GSX1300R Hayabusa.

Pada Juni tahun ini, Yamaha menambah lini motor besarnya dengan memperkenalkan MT-09 di ajang Jakarta Fair 2015. Tak lama berselang, giliran Honda yang ikut bergabung di segmen ini.Seteru abadi Yamaha itu menyingkap selubung CB650F, CBR650F, NM4 Vultus, dan CBR1000RR di Bali. Ada pula dua motor Honda yang kapasitas mesinnya mendekati segmen motor besar, yaitu CB500F dan CB500X.

Ketiganya menemani Kawasaki yang terlebih dahulu terjun di segmen motor besar dan telah menelurkan 16 'motor gede' (moge) menurut data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI).Bersama-sama, para 'samurai' ini berhadapan dengan hegemoni produsen motor besar Amerika Serikat dan Eropa seperti Harley Davidson, Victory, Indian, Triumph, hingga Ducati.

"Kami serius datangkan 'moge' itu dan berharap berpengaruh pada citra produk-produk kami selanjutnya," kata Direktur Pemasaran Senior PT Suzuki Indomobil Sales Endro Nugroho, di Jakarta, pada 2014.

Yamaha, di sisi lain, menjelaskan keputusan meluncurkan MT-09 tak lepas dari meningkatnya pendapatan per kapita Indonesia yang kini ada di angka US$3.700. "Pasar kelas menengah ke atas bertambah. Jenis keperluan mereka juga ada kenaikan. Karena itu, kami siapkan motor-motor berbeda meski kuantitasnya masih sedikit," jelas Asisten General Manager Pemasaran PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing Mohammad Masykur di Ibu Kota, Juni lalu.

Direktur Pemasaran PT Astra Honda Motor Margono Tanuwidjaja tak memungkiri faktorfaktor tersebut. "Tujuannya untuk diferensiasi produk. Ada kebutuhan konsumen yang belum kami penuhi," tukasnya Kamis (25/6) lalu di sela acara buka puasa bersama media di Jakarta.

Sebelumnya, Executive Vice President Director AHM Johannes Loman menegaskan di segmen motor besar ini pihaknya tidak sekadar menjual produk. Itu yang menjadi sebab mengapa AHM baru masuk meramaikan pasar moge belakangan ini.

"Kami harus menyiapkan layanan purnajual (after sales) hingga jaringan distribusi dan itu perlu waktu yang tidak sebentar. Sekarang kami siap," ucapnya, saat konferensi pers peluncuran enam big bike Honda di Nusa Dua, Bali, awal Juni lalu.

Ceruk pasar dan pajak
Saat ini, ceruk pasar motor besar masih teramat kecil bila dibandingkan dengan volume penjualan sepeda motor nasional. Tahun lalu, Endro menyebut penjualannya tak sampai 5.000 unit dari bobot pasar roda dua yang menyentuh 7.908.941 unit.

Untuk tahun ini, kontribusi motor besar juga diperkirakan kurang lebih cuma 1% dari bobot pasar. "Pasar yang paling besar yang 600 cc karena faktor keterjangkauan harga. Motor 1.000 cc berharga Rp575 juta pasti peminatnya lebih sedikit," ucap Margono.

Data penjualan AISI menunjukkan hanya 711 unit motor besar pabrikan Jepang terlego sepanjang Januari-Mei 2015, cuma 0,03% dari pasar lima bulan pertama. Sebanyak 584 unit atau 82,14% segmen motor besar didominasi kelas 600-650 cc.

Masykur memproyeksikan pertumbuhan segmen ini di Nusantara akan lambat. Pengenaan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) besar dan pajak penghasilan (PPh) menjadi penyebabnya.

Sebagai informasi, mulai tahun ini pemerintah memang memberlakukan tarif PPh pasal 22 kepada kendaraan bermotor roda dua berbanderol mulai Rp300 juta, dengan kapasitas mesin lebih dari 250 cc. Tarif pajaknya berkisar 10% sampai 75% dari harga jual.

Sebelumnya, motor-motor berkapasitas mesin di atas 500 cc juga telah dibebani PPnBM 125% dari harga jual.Tantangan kedua, menurut Masykur, ialah infrastruktur jalan yang persebaran serta kualitasnya belum merata.

Akan tetapi, pasar yang minim plus banyaknya tantangan pajak itu tak membuat pabrikan menjadi tidak serius menggarap pasar motor besar. Buktinya, Honda yang belakangan muncul setelah Yamaha dan Suzuki bahkan tak ragu langsung mengembangkan layanan premium khusus bagi pemilik motor besar Honda melalui Showroom Big Wing.

Menurut Loman, layanan khusus satu pintu itu dikembangkan di tujuh kota besar bekerja sama dengan delapan main dealer. Showroom Big Wing memiliki sales force khusus yang siap melayani valued customer big bike Honda dan layanan purnajual khusus, seperti bantuan darurat di jalan gratis 24 jam. "Kami sediakan mekanik khusus," ujarnya.

Dengan ramalan pendapatan per kapita Indonesia US$5.000 pada 2020 plus akselerasi cepat jumlah kelas menengah baru, 'magnet' segmen ini berpotensi membesar di masa depan. Keseriusan pabrikan Jepang pun amat mungkin bakal menuai hasil positif. (Zhi/S-2) insan@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya