PT Indorama Synthetic Tbk berencana terus agresif meningkatkan ekspor sampai ke seluruh negara di dunia. Saat ini, perusahaan telah melakukan ekspor ke 80 negara di dunia, seperti Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Eropa. "Dulu ekspor masih 55%-60%, sekarang sudah mencapai 60%-65%. Barang hasil produksi di Uzbekistan juga diekspor," kata Presiden Direktur PT Indorama Synthetic VS Baldwa pada saat rapat umum pemegang saham di Gedung BEI, Jakarta, kemarin.
Ia menjelaskan porsi ekspor perusahaan pada 2014 tercatat sekitar US$486,07 juta, atau setara dengan 67% dari total pendapatan. Sementara itu, porsi ekspor pada triwulan pertama tahun ini mencapai US$114,55 juta, atau setara dengan 67,89% dari total pendapatan triwulan pertama 2014. Meski demikian, Baldwa mengaku, pendapatan triwulan pertama belum terlalu baik karena hasilnya menurun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan triwulan pertama tahun ini sebesar US$168,72 juta, atau mengalami penurunan 5,41% dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$178,38 juta. "Tapi, enam bulan kedua atau pada semester II tahun ini, pendapatan dirasa akan melaju karena ditopang oleh tambahan kapasitas produksi dari pabrik benang pintal," kata Baldwa.
Lebih jauh, Baldwa mengatakan pihaknya menganggarkan belanja modal tahun ini sebesar US$60 juta-US$70 juta yang akan digunakan untuk melakukan peningkatan kapasitas produksi benang pintal di pabrik Indonesia dan Uzbekistan pada semester II mendatang. Perusahaan akan meningkatkan produksi untuk benang pintal tersebut mencapai 10%-15% atau sekitar 80.300 ton-83.950 ton dari total produksi di Indonesia dan Uzbekistan yang mencapai 73 ribu ton/tahun. Sementara itu, total produksinya mencapai 60 juta meter/tahun, dan kapasitas produksi polyester sebesar 277 ribu ton/tahun.
Sekadar informasi, saat ini perusahaan sudah memiliki 3 pabrik, yakni 2 pabrik terletak di Purwakarta dan 1 pabrik di Uzbekistan. "Untuk sekarang, kami fokus dulu di benang pintal karena untuk produk tersebut saat ini nilai tambahnya sedang bagus." Peningkatan kapasitas produksi itu diharapkan Baldwa dapat menjadi penopang target peningkatan pendapatan 2015, sebesar US$850 juta, yang naik dari tahun lalu US$726,02 juta. "Kami memasang target cukup tinggi karena asumsi harga minyak dunia sebagai bahan baku tekstil naik lagi. Ketika harga bahan baku naik, harga jual produksi otomatis naik," katanya.
Dividen Sritex Pada kesempatan terpisah, perusahaan tekstil PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) membagikan dividen tunai Rp100 miliar pada tahun ini. Nilai itu setara Rp5,37 per lembar saham, atau 17,9% dari laba bersih perseroan pada 2014. "Pembagian ini telah disetujui dalam rapat umum pemegang saham," kata Direktur Keuangan Sritex Allan Moran Severino di Jakarta, kemarin.
Pada tahun lalu, emiten berkode SRIL itu membukukan penjualan kotor sebesar US$555 juta, dengan laba komprehensif bersih US$45 juta. Pada tahun ini, perusahaan tekstil yang berbasis di Jawa Tengah itu menargetkan penjualan sebesar US$594 juta-US$611 juta, dengan laba US$49 juta-US$52 juta.